Skripsi (1)

Saat saya masih menikmati kesunyian perth, seorang mahasiswa mengirimkan email. Dia bertanya, apa benar departemen komunikasi memperkenankan mahasiswa-nya lulus tanpa harus mengerjakan skripsi? Saya kaget. Saya tidak pernah tahu. Dan saya memang tidak tahu, karena saat itu saya tidak aktif.Jadi, saya jawab saja, saya tidak tahu. Saat itu, saya memang sedang menyelesaikan program master by research dengan sistem yang relatif baru di Curtin University. Program yang menuntut saya membuat dua “jenis” thesis: satu berupa karya tulis, dan bentuk kedua berupa film essay. Itulah makanya mereka menamakan program master yang saya ambil: creative arts. Program yang membunuh saya sejak tahun pertama. … Lanjutkan membaca Skripsi (1)