Tips Sakti Ujian Skripsi

Sekarang lagi jamannya memberikan tips praktis. Coba lihat di toko buku. Semua ada tips-nya. Tips praktis mencari pacar, tips praktis kaya raya, tips mutusin pacar, tips tetap jomblo. Saya coba memberi tips sakti ujian skripsi. Bukan, bukan sakti yang anak komunikasi yang pinter desain itu. Ini juga belum tentu “sakti” amat. Tapi, ya namanya juga tips, pasti harusnya bisa dicoba. Kalau ndak bisa dicoba namanya bukan tips. Berikut beberapa diantaranya. Banyak berdoa, berusaha dan bekerja. Ya elah. Ini bukan tips lagi. Tapi, ya standar memang. Tak ada salahnya dicoba. Lagipula ini baru pembukaan. Kalau pembukaan pasti hal-hal umum. Lagipula, kalau … Lanjutkan membaca Tips Sakti Ujian Skripsi

Ritual Skripsi Mahasiswa Komunikasi (Habis)

The D-Day seakan-akan menjadi hari yang paling panjang selama hidup mahasiswa. Seperti hari mereka akan diekskusi. Sementara para dosen memasuki hari itu dengan semangat berbeda: “Ndang dimarekno, kerjoan sek akeh, mari ngene ngoreksi akeh, ngelebokno nilai! Cuk…akeh tenan” Ritual memulai D-day adalah Ritual Bingung. Bingung memulai dari mana dan untuk apa. Ada yang sehari menjelang ujian tiba-tiba kehilangan kepercayaan dan sedikit ingatan. Mereka bertanya-tanya, “Ini skripsi yang aku kumpul beneran skripsiku ya?”. Ada juga yang tiba-tiba merasa pintar dan sontak menangis tersedu sambil menjerit, “Astagaaaaaaa, perumusan masalahku salahhhhhh” (padahal belum diuji). Ada juga yang bingung mau pakai pakaian apa. Yang … Lanjutkan membaca Ritual Skripsi Mahasiswa Komunikasi (Habis)

Ritual Skripsi Mahasiswa Komunikasi (2)

Menjadi mahasiswa itu adalah menjadi sosok yang penuh ritual. Mulai sejak awal masuk, hingga mau keluar. Ehm, keluar masuk ini soal mahasiswa lo yah. Kalau pada tulisan pertama kemarin, saya cerita ritual saat mengumpulkan skripsi, kali ini saya lanjutkan dengan ritual setelah mengumpulkan skripsi. Ritual senyap yang menjadi akhir dari fase pertama skripsi, sebetulnya menandai hari dan malam panjang tanpa ujung yang penuh penantian, kecemasan, kegalauan akut dan kronis. Lengkap dah. Ritual senyap ini bukan akhir. Ritual senyap ini adalah awal dari sebuah penderitaan dan penyiksaan yang lebih berat. Ritual senyap ini terjadi dalam dua fase. Fase pertama adalah fase … Lanjutkan membaca Ritual Skripsi Mahasiswa Komunikasi (2)

Ritual Skripsi Mahasiswa Komunikasi (1)

Tampaknya sekarang lagi heboh ujian skripsi. Ini ritual tetap sebetulnya di komunikasi (Unair). Ritual yang menjengkelkan tapi sebetulnya menyenangkan. Karena, ya mau apa lagi? Saya memang digaji untuk itu. Jadi kalau ada yang digaji tapi ndak mau melakukan itu namanya kurang ajar. Ritual ini akan dimulai dengan keributan awal semester. Para mahasiswa yang heboh “menemukan” dosen pembimbingnya. Berlebihan sih. Tapi ada benarnya juga. Karena seringkali ada yang berharap mendapatkan dosen A, tapi ujung-ujungnya dapat dosen B. Dosen-dosen yang cantik dan ganteng biasanya laris untuk diharapkan. Saya mah ndak laku, soalnya bukan dosen ganteng. Saya kan dosen manis. Saya jadi membayangkan … Lanjutkan membaca Ritual Skripsi Mahasiswa Komunikasi (1)

Kenapa Skripsi (tidak) Perlu? (TAMAT)

Lalu, bagi saya yang merasa skripsi itu tidak wajib, adakah alasannya. Saya punya banyak alasan. Tentu tak sama dengan yang lain. Tak mesti sejalan juga dengan yang lain. Dan bukan soal kebenaran. Kebenaran itu hal yang lain lagi. Misalnya, kenapa saya manis. Itu kebenaran. Masih relative sih. Relatif benar. Saya sampaikan beberapa saja yang masih bisa lumayan kadar kewarasannya. Skripsi bukan satu-satunya alat penentu kadar keilmiahan. Selama empat tahun kuliah tentu banyak indikator yang bisa kita pakai. Tugas misalnya. Jika selama satu semester ada 6 mata kuliah dan setiap mata kuliah ada minimal satu tugas sepuluh halaman essay. Selama 8 … Lanjutkan membaca Kenapa Skripsi (tidak) Perlu? (TAMAT)

Kenapa Skripsi (tidak) Perlu? (3)

Argumentasi soal perlu tidaknya skripsi barangkali memang tidak sedahsyat isu-isu besar negeri ini. Tapi, setidaknya, skripsi seringkali menjadi, atau dianggap, salah satu momok (tahu momok? Beda sama me..eh..mimik). Saya mulai dengan argumentasi kenapa skripsi perlu. Sebetulnya ini re-post dari tulisan saya yang lama: Apa sih untungnya membuat skripsi? Argh, tentu, sebagian dari yang benci skripsi akan punya daftar yang sangat pendek. Bahkan, tidak ada dalam daftar sama sekali. Tapi, sungguh menyenangkan jika kita bisa menemukan hal-hal baik dari sesuatu yang kita benci, bukan? Mari kita mulai. Paling tidak dalam daftar saya. Siapa tahu sama. Siapa tahu berguna. Mengetahui betapa masih … Lanjutkan membaca Kenapa Skripsi (tidak) Perlu? (3)

Kenapa Skripsi (tidak) Perlu? (2)

Saya sepertinya percaya, skripsi itu tak ubahnya pacar. Ada yang merasa perlu. Ada pula yang tidak. Ada yang merasa gagal skripsi seperti gagal dalam hidup. Seperti pacar. Ada juga yang merasa, kalau gagal skripsi, yo weslah…seperti pacar. Namun, sebetulnya menarik juga jika melihat bagaimana relasi dosen – mahasiswa yang terbungkus melalui skripsi. Seperti tipe-tipe hubungan antar manusia gitu. tentu tak semua menyenangkan. banyak yang menyebalkan. Namun, saya percaya, relasi yang terbentuk akan bermanfaat. Paling tidak bagi saya. Mengerjakan skripsi itu ibarat orang mules sakit perut. Lebih pas lagi mules karena diare. Menggarap skripsinya ibarat mulesnya. Buat hidup ini jancuk kuadrat. … Lanjutkan membaca Kenapa Skripsi (tidak) Perlu? (2)

Kenapa Skripsi (tidak) Perlu? (1)

Kenapa sih skripsi itu (tidak) diperlukan? Jawabannya akan berbeda-beda, tergantung siapa mahasiswanya. […dan mahasiswi-nya. Selanjutnya, bukan karena saya patriarkhi atau menempatkan perempuan sebagai sub-dominan, saya hanya menyebut mahasiswa untuk mewakili pria dan wanita. Untuk yang masih bingung posisinya bisa disebut mahasiswai…]. Ini sebetulnya wacana lama. Tapi bagi beberapa orang (dosen dan mahasiswa) ini adalah wacana baru. Apa sih pentingnya membahas perlu tidaknya skripsi? Bukankah lebih penting membahas beras plastic? Untuk argument ini saya bisa membantah. Mbak dan mas bro, kalau ribut soal beras palsu, coba dihitung, berapa mie goreng atau kuah yang situ makan perminggu? Itu apa ndak ada plastiknya? Coba … Lanjutkan membaca Kenapa Skripsi (tidak) Perlu? (1)

Skripsi (3)

Apa sih untungnya membuat skripsi? Argh, tentu, sebagian dari kita yang benci skripsi akan punya daftar yang sanagt pendek. Bahkan, tidak ada dalam daftar sama sekali. Tapi, sungguh menyenangkan jika kita bisa menemukan hal-hal baik dari sesuatu yang kita benci, bukan? Mari kita mulai. Paling tidak dalam daftar saya. Siapa tahu sama. SIapa tahu berguna. 1. Mengetahui betapa masih bodohnya kita. Penting untuk mengembalikan kesadaran kita. Banyak kok orang-orang yang merasa dirinya sudah hebat. Sudah pintar. Hanya karena mereka menguasai satu atau dua hal. Membuat skripsi bisa mengembalikan kesadaran kita itu. 2. Melatih kita tahan terhadap penderitaan. No words. You … Lanjutkan membaca Skripsi (3)

Skripsi 

Wacana soal skripsi menjadi tidak wajib adalah salah satu mimpi saya. Berikut repost tulisan lama saya.  Saya bukan orang yang pintar menulis. Apalagi menggunakan bahasa-bahasa fantastis. Plus kutipan-kutipan eksotis. Tentu, istilah-istilah elitis. Yang barangkali hanya bisa dipahami Tuhan dan sang penulis. (Note: Tuhan pun belum tentu tahu lo yah :P).Saya juga bukan orang yang hobi membaca buku-buku berat (selain karena isinya berat, kadang-kadang buku-buku itu secara fisik juga berat). Mungkin karena saya penganut hedonis atheis kapitalis yang sosialis apatis. Jadi, kalau yang lain mengenal karl marx, saya mengenal richard marx. Yang lain khatam albert camus, saya kadang suka buka kamus. … Lanjutkan membaca Skripsi