Barbie: Senjakala Pria Perkasa

REAL: Review Asal Ini film permintaan Echa dan Diva. Serius. Saya ndak bohong. Potong leher anda kalau saya bohong! Ini karena saat suatu sore, Diva tiba-tiba datang dengan muka melas sambil berkata, “Ajik, I want bobby…I want to watch bobby…”. Iyah, Diva maksudnya Barbie. Maka jadilah kami nonton Barbie streamingan. Echa yang gesit mencarikan film Barbie terbaru. Serius, ini yang terjadi. Bukan saya yang sengaja cari film barbie, lalu menontonnya sambil minum bir dan pie susu. Tapi Barbie ini selalu menarik hati. Eh, maksudnya menarik buat dikaji. Barbie menjadi bentuk perlawanan terhadap dominasi laki-laki. Barbie menjadi symbol idola anak-anak perempuan. … Lanjutkan membaca Barbie: Senjakala Pria Perkasa

Essay Pita Cukai: Sebuah Review

Re-post dari http://tanahapikata.blogspot.com/2010/01/kritik.html Tak banyak film essay diproduksi di Jawa Tinur. Maka, saya langsung menyanggupi saat S.Jai menyodorkan film essay-nya direview. Adalah sebuah kesempatan langka, saat satu genre dalam studi sinema itu dicoba untuk ditekuni. Selama ini, tepatnya selama euforia film pendek di Indonesia, oh oke, Jawa Timur, saya menonton ratusan film-film pendek dengan genre drama fiksi, serta beberapa belas dokumenter, sedikit eksperimental dan, akhirnya, satu sinematik essay. Film essay atau sinematik essay, sebagai sebuah bentuk film, telah lama didiskusikan dalam ruang lingkup film studies sebagai salah satu genre integratif. Sebagaimana banyak studi kritis dan genre dalam sinema, pengaruh sastra tulis … Lanjutkan membaca Essay Pita Cukai: Sebuah Review