Kenapa Dosen Harus Sekolah? (1)

Saya teringat pertanyaan satu mahasiswa saya saat saya mengabarkan bahwa saya harus sekolah tahun berikutnya. Itu saat dia mengumpulkan bab 1 sementara deadline skripsi tinggal satu minggu lagi. Saat itu pertanyaan itu saya anggap pertanyaan palsu. Mahasiswa mana yang tak senang dosennya pergi? Apalagi dosen yang hobinya dan prinsip hidupnya: Tugas Or Die. Tapi, saat ini pertanyaan itu terngiang kembali. Saat saya bengong mematung di depan laptop, nanar menghadapi revisi supervisor saya. Kenapa dosen harus sekolah? Kenapa ya? Sebetulnya jawabannya banyak. Tapi saya ndak tahu mana yang cocok. Mungkin karena dosen itu bosan dengan kehidupan dan rutinitasnya. Bayangkan, bangun pagi, … Lanjutkan membaca Kenapa Dosen Harus Sekolah? (1)

Dosen Bukan Kasta. Jadi, Biasa Sajalah.. (Seri Dosen Juga Manusia. Sepertinya)

Catatan: tulisan ini semua adalah pandangan dan pengalaman pribadi saya, tidak mengatasnamakan institusi apapun, termasuk institusi IDOMA (Ikatan Dosen Manis Ah) tempat saya menjadi ketua, sekjen sekaligus satu-satunya anggota. Kadang, saya merasa (dan seringkali perasaan saya salah), saat awal menjadi dosen, saya seakan berpindah kasta. Tahu kasta kan? Bukan yang jogged-jogged reggae itu, itu Rasta. dari semula rantai makanan paling lemah, alias mahasiswa, kemudian masuk dalam sebuah lingkaran elit bernama dosen. Itu bermula dari jeritan ibu saya saat saya telpon, “Ibu saya mau jadi dosen”. Tidak ada jawaban sesaat. Hening. Kemudian muncul teriakan “Apaaaaaaa?” Kemudian terdengar suara “Bruk”. Saat itu … Lanjutkan membaca Dosen Bukan Kasta. Jadi, Biasa Sajalah.. (Seri Dosen Juga Manusia. Sepertinya)

3 Alasan Jadi Dosen (Seri Dosen Juga Manusia. Sepertinya)

Kenapa saya mau jadi dosen. Itu pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan cepat. Miriplah dengan bertanya berapa hasil 45 dikali 765 dibagi 346 dikurangi 56. Susah kan? Musti mikir dulu kan? Atau sama dengan kalau mahasiswa ditanya dosennya. “kalian milih mana, dapat tugas bikin paper 10 halaman apa dengerin kuliah saya lima jam nonstop”. pasti susah juga njawab seketika. Musti mikir dulu. Walau hasilnya sama: tifus! Saya awalnya juga ndak tahu kenapa saya mau jadi dosen. Bukan guna-guna yang jelas. Lha yang nanya dosen saya yang cowok. Ndak ganteng. Apalagi manis. Tapi setelah menjalaninya, saya merasa punya jawaban — yang … Lanjutkan membaca 3 Alasan Jadi Dosen (Seri Dosen Juga Manusia. Sepertinya)