Empat Nasehat Biar Selamat (buat mahasiswa baru nan lucu dan lugu)

Lagi ramai penerimaan mahasiswa baru. Termasuk di Komunikasi Unair. Pasti unyu. Mirip saya. Mahasiswa baru, selanjutnya saya singkat haru. Iya, biar ndak mainstream. Masih mending haru, ketimbang waru? Nah, sementara mereka, atau kalian, jika membaca ini, menikmati keseruan menjadi mahasiswa baru, ada beberapa nasehat perlu agar bisa selamat sebagai mahasiswa baru. Tentu, ini berlaku hanya di Komunikasi Unair. Ndak tahu di tempat lain. Tapi, kalaupun berguna, tentu bisa ditiru. Karena saya kok ndak yakin di tempat lain ada yang se-unyu-unyu komunikasi Unair ini Pertama, dosen komunikasi Unair itu suka ber-semiotika. Dengarkan betul setiap perkataan mereka. Kalau perlu setiap titik koma … Lanjutkan membaca Empat Nasehat Biar Selamat (buat mahasiswa baru nan lucu dan lugu)

Mission I-M Possible: Kom-Protocol

  Saat kegaduhan di dunia luar sana sedang menggema, dunia kecil tempat saya bekerja menjalani masa baru dengan senyap. Iya, Komunikasi FISIP-Unair baru saja memilih jajaran pimpinannya yang baru untuk periode lima tahun ke depan. Memang tak sehiruk pikuk dekanat, rektorat atau malah pimpinan DPR. Tak ada drama gugat ke MK, atau lempar palu. Yang ada, malah pemilihan melalui jalur whatsapp buat kolega yang sedang studi, yang diakhir makan-makan bagi yang sedang di Surabaya (iki sakjane gak uenak…lha, yang sedang studi cuman diminta ngiler ngliatin foto-foto kolega sedang makan-makan…). Para pimpinan yang baru, ya, nama-nama yang tak asing lagi.. (Hellllaaaaaaawwwww, … Lanjutkan membaca Mission I-M Possible: Kom-Protocol

Harapan Lugu untuk Dekanat Baru: Buka (jalur) Komunikasi Di Semua Lini

  Ini terakhir. Sungguh ini terakhir. Setelah itu, dekanat baru tak saya ganggu lagi dengan tulisan harapan lugu ini. Daripada saya disawat perintah nulis di jurnal lagi. Tapi sungguh, ini juga isu penting, untuk FISIP. Barangkali karena saya dari Komunikasi. Ini menjadi sangat “komunikasi” perspektifnya. Dekanat baru harus bisa membuka semua jalur komunikasi. Di semua lini. Tanpa kecuali. Sebagai sebuah kampus, FISIP punya pemangku kepentingan yang beragam. Utamanya adalah mahasiswa. Bagaimanapun, suka tak suka, layanan ditujukan untuk mahasiswa. Lainnya, tentu ada: dosen, pegawai, alumni, mitra kerjasama. Ini jaman yang sudah berbeda sekali dengan jaman setidaknya lima tahun lalu. Saya saja … Lanjutkan membaca Harapan Lugu untuk Dekanat Baru: Buka (jalur) Komunikasi Di Semua Lini

Harapan Lugu untuk Dekanat Baru (2): Menjaga dan Menghargai Keberagaman

  Harapan lugu saya yang pertama langsung dibalas pak dekan dengan beban menulis di jurnal internasional. (*mateeek). Loh, ndak fair loh itu. Saya loh kelas ecek-ecek, baru nulis satu di blog doang udah dihajar pake beban itu 😛 Huh. Tidak adil. (Lipat tangan, balik badan, lempar poni..) Okay, lanjut ke harapan berikutnya. Semoga menambah beban berikutnya. Selama saya kuliah di FISIP Unair, salah satu hal yang saya suka adalah keberagamannya; dalam banyak hal. Sehingga, saya berharap dekanat FISIP yang baru ini dapat tetap menjaga dan menghargai keberagaman FISIP. Misalkan saja keberagaman akses. Salah satu PR besar Unair, termasuk FISIP adalah … Lanjutkan membaca Harapan Lugu untuk Dekanat Baru (2): Menjaga dan Menghargai Keberagaman

Masa Mengisi KRS Tiba, Masa Dosen Pusing Kepala

Salah satu untungnya sekolah lagi bagi dosen adalah terbebas dari hal-hal yang bikin sakit kepala. Termasuk saat masa KRS tiba. KRS itu beda sama KRL, atau KRAM. Ini saat mahasiswa menentukan rencana studi pada masa semester berjalan berikutnya. Ini saat yang tiba-tiba membuat dosen pusing kepala juga. Karena hal-hal berikut ini: Pertanyaan klasik mahasiswa yang malas mikir: “Semester ini saya harus ambil apa?” Lah, yang kuliah siapa? Harusnya tahu dong semester ini mau ambil apa. Ini kayak kamu berdiri di depan penjual duren dan bertanya, “Saya harus beli apa ya?”. (*langsunglemparduren). Situ mahasiswa. Udah tahu persis harusnya mau ambil apa, … Lanjutkan membaca Masa Mengisi KRS Tiba, Masa Dosen Pusing Kepala

Panduan Seru Untuk Mahasiswa Baru: Kenali Kakak Kelasmu atau Dosenmu

Waktu SMA, kamu bisa membedakan mana guru dan mana temanmu dari seragam yang mereka pakai. Sederhana dan mudah. Kalau kuliahan, kadang susah membedakan mana mahasiswa mana dosen. Mungkin karena mahasiswanya penampilannya tua banget, atau dosennya yang penampilannya mbois banget. Jangan salah. Salah mengenali bisa hancur nama baik dan hilang harga diri. Ada beberapa ciri yang bisa dipakai pedoman awal: Kalau ada orang yang tiba-tiba aja ngelihatin kamu terus, matanya menatap tajam. Kadang terlihat menerawang di awang-awang, itu bisa jadi mahasiswa yang baru saja draft skripsinya dikembalikan dengan coretan silang merah besar di setiap halamannya dan ada kalimat pendek di depan: … Lanjutkan membaca Panduan Seru Untuk Mahasiswa Baru: Kenali Kakak Kelasmu atau Dosenmu

Kualitas Diri Bukan Karena Sekolah Bergengsi

Pertanyaan klasik muncul dari mahasiswa saya. “Apakah sekolah di luar negeri itu jauh lebib baik, bergengsi dan berkualitas dibandingkan dengan sekolah di dalam negeri?’ Jawabannya sederhana: Kualitas diri tidak ditentukan dari dimana kita studi. Tapi dari bagaimana kita studi. Jadi, mau sekolah di luar negeri, di dalam negeri, bahkan di luar angkasa sekalipun kalau anda memang dasarnya kampret, ya tetap saja kualitas kampret. Saya yang memang pada dasarnya manis ini, biar sekolah keluar negeri, tetap saja manis. Ndak bisa berubah jadi ganteng. Jadi, sudahlah. Ndak usah terpukau dulu dengan sekolahnya. Kamu jadi keren bukan karena sekolahmu keren. Kamu jadi keren … Lanjutkan membaca Kualitas Diri Bukan Karena Sekolah Bergengsi

Ritual Skripsi Mahasiswa Komunikasi (Habis)

The D-Day seakan-akan menjadi hari yang paling panjang selama hidup mahasiswa. Seperti hari mereka akan diekskusi. Sementara para dosen memasuki hari itu dengan semangat berbeda: “Ndang dimarekno, kerjoan sek akeh, mari ngene ngoreksi akeh, ngelebokno nilai! Cuk…akeh tenan” Ritual memulai D-day adalah Ritual Bingung. Bingung memulai dari mana dan untuk apa. Ada yang sehari menjelang ujian tiba-tiba kehilangan kepercayaan dan sedikit ingatan. Mereka bertanya-tanya, “Ini skripsi yang aku kumpul beneran skripsiku ya?”. Ada juga yang tiba-tiba merasa pintar dan sontak menangis tersedu sambil menjerit, “Astagaaaaaaa, perumusan masalahku salahhhhhh” (padahal belum diuji). Ada juga yang bingung mau pakai pakaian apa. Yang … Lanjutkan membaca Ritual Skripsi Mahasiswa Komunikasi (Habis)

Ritual Skripsi Mahasiswa Komunikasi (2)

Menjadi mahasiswa itu adalah menjadi sosok yang penuh ritual. Mulai sejak awal masuk, hingga mau keluar. Ehm, keluar masuk ini soal mahasiswa lo yah. Kalau pada tulisan pertama kemarin, saya cerita ritual saat mengumpulkan skripsi, kali ini saya lanjutkan dengan ritual setelah mengumpulkan skripsi. Ritual senyap yang menjadi akhir dari fase pertama skripsi, sebetulnya menandai hari dan malam panjang tanpa ujung yang penuh penantian, kecemasan, kegalauan akut dan kronis. Lengkap dah. Ritual senyap ini bukan akhir. Ritual senyap ini adalah awal dari sebuah penderitaan dan penyiksaan yang lebih berat. Ritual senyap ini terjadi dalam dua fase. Fase pertama adalah fase … Lanjutkan membaca Ritual Skripsi Mahasiswa Komunikasi (2)

Ritual Skripsi Mahasiswa Komunikasi (1)

Tampaknya sekarang lagi heboh ujian skripsi. Ini ritual tetap sebetulnya di komunikasi (Unair). Ritual yang menjengkelkan tapi sebetulnya menyenangkan. Karena, ya mau apa lagi? Saya memang digaji untuk itu. Jadi kalau ada yang digaji tapi ndak mau melakukan itu namanya kurang ajar. Ritual ini akan dimulai dengan keributan awal semester. Para mahasiswa yang heboh “menemukan” dosen pembimbingnya. Berlebihan sih. Tapi ada benarnya juga. Karena seringkali ada yang berharap mendapatkan dosen A, tapi ujung-ujungnya dapat dosen B. Dosen-dosen yang cantik dan ganteng biasanya laris untuk diharapkan. Saya mah ndak laku, soalnya bukan dosen ganteng. Saya kan dosen manis. Saya jadi membayangkan … Lanjutkan membaca Ritual Skripsi Mahasiswa Komunikasi (1)