Menyanyi Kemarin malam, saat makan malam, Echa terlihat sedikit kecewa. Saya bisa menebak sebenarnya. Minggu ini adalah minggu pengumuman hasil test program khusus bagi kelasnya. Tapi dari awal sebetulnya dia tidak berharap banyak, karena kami selalu mengajarkan dia bahwa setiap orang ounya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak ada orang yang menguasai semua hal. Tapi, bagaimanapun, rasa kecewa itu tetap ada., Dan itu wajar. Apalagi Echa selalu “berkompetisi” dengan besties-nya. Mereka bersahabat bertiga “Ajik, did you receive a big envelope in our mailbox?” “Nope. I didn’t see anything in our mailbox. Why?” “Oh, it’s all right. I probably don’t get any … Lanjutkan membaca

Flower Day Hari ini flower day. Bukan, ini bukan hari bunga. Ini hari kelulusan anak SMA tempat saya kerja jadi tukang parkir. Kalau di Endonesah, anak-anak SMA sebagian merayakan lulusan dengan coret-coret baju, konvoi keliling kota, ndak pake helm, dan akhirnya berakhir dengan kepala benjut dipentung pak polisi, di sini semacam jadi pensi dan bagi-bagi bunga. Cewek- cewek SMA itu dandan habis-habisan. Sampe ndak bisa bedain mana anaknya mana emaknya. Tugas saya salah satunya ngusirin mereka yang parkir di areal terlarang. Seperti tadi, datang satu mobil dua pintu. Merk-nya jaguar. Harganya kayaknya setara dua kali gaji saya sebagai dosen seumur … Lanjutkan membaca

Belajar Bahasa Echa menonton film Indonesia pertama kali usia tiga tahun. Saya lupa yang mana, karena sejak saat itu, setiap ada film anak-anak Indonesia yang baru dirilis, Echa pasti kami ajak nonton di bioskop. Kini saat kami di Perth, dia juga tetap menonton film anak-anak Indonesia. Kali ini menonton film anak-anak yang menjadi materi riset saya. Walau tak semudah dulu. Bukan apa-apa, kendala bahasa kini muncul. Sehingga dia lebih memilih yang ada subtitle inggris. Walau tetap saja, dia menikmati film yanh tak ada terjemahan inggrisnya. Saya yang harus membantu menjelaskan. Tak semua tentunya. Itulah indahnya bahasa visual. Proses riset ini … Lanjutkan membaca