Holiday Hari pertama bertugas lagi seperti suasana hari pertama setelah libur riyoyoan. Semua orang saling mengucapkan selamat hari raya dan bermaafan. Saya biasanay keliling dari lantai dua ke lantai satu untuk bersalaman. Paling enak pas ada makan-makannya. Tapi ini beda. Semua saling mengucapkan selamat tahun baru dan basa-basi soal selamat bertemu kembali. “Good morning, Satrya… Its good to see you back” atau “Morning mate, happy new year…it will be another 10 months to go…” (asyem, baru mulai masuk udah menghitung hari kapan libur lagi) Tapi, selain bersalam tahun baru, basa-basi mereka juga bertanya soal liburan kemana aja kemarin. Dan tentu … Lanjutkan membaca

Dua hari ini, saya kalau lagi nganter pizza, nyetirnya adem banget. Extra hati-hati. Jadi setiap mau nganter pizza ke kastamer, saling ngingetin: double demerits loh. Iya, saya bukan pengendara yang baik, saya tahu itu. Tapi di negeri ini saya belajar nyetir dengan tertib. Tapi e tapi, waktu di Indonesia, saya ndak pernah loh ikutan ngebut di belakang ambulans yang lagi nguing2, atau ikutan pasang lampu hazard di belakang deretan mobil yang pasang hazard ngikutin mobil polisi. (Hayo..yang sering kayak gitu…ngaku..) Minggu ini long weekend, dan polisi nerapin double demerits point. Artinya setiap pelanggaran, poin pelanggarannya jadi double. Yang lebih gawat … Lanjutkan membaca

Biasanya saya beli makan siang di supermarket dekat kampus. Mereka menyediakan menu makan siang dalam kotak (hot lunch/dinner meal) dengan harga sangat murah untuk ukuran Perth, cuman lima dollar dengan menu beragam. Jauh lebih murah dibandingkan dengan menu serupa di kantin kampus saya yang paling murahnya mencapai 9-10 dollar. Kantin-kantin di kampus saya ini memang mbelgedhes harganya. Belum lagi rasanya ambyar ndargombes. Barangkali kuah bekas kobokan tangan lebih berasa. Nah, karena murah itulah saya rutin membeli makan siang di supermarket itu. Sekali datang, beli tiga atau empat box tergantung menu saat itu. Lalu disimpan di kulkas. Tiap tiga atau empat … Lanjutkan membaca

Dapat mas gojek yang bukan lagi mas-mas, tapi mbah-mbah. Sudah sepuh dan kurus pula. Jadi banyak ndak tega-nya. Dibonceng menembus kemacetan Kuta plus menantang kegilaan pemotor yang lain. Si mbah malah taat aturan. Saat macet, manut di belakang mobil. Ndak pernah sekalipun nyalip dari kiri. Walah, padahal saya buru-buru. Menunggu anteng macetnya hilang seperti menunggu jomblo menepati janjinya kawin tahun depan. “Pak, ndak berani nyalip pak?” Dia lalu terpaksa ambil kiri. Mungkin karena sepuh, si motor agak oleng tak stabil. Baiklah. Ini mengerikan. Akhirnya saya ambil inisiatif. Saya perlu cepat. “Pak, berhenti sini pak.” “Oh kenapa mas?” “Saya perlu cepat … Lanjutkan membaca

Hot “It’s hot…” jawab saya saat ditanya seorang mbak guru kemarin. Kemarin itu panasnya luar biasa memang. Si mbak guru terdiam. Lalu tersenyum lebar. Saya ikut tersenyum. Lalu tersadar.. “I mean the weather. Hot..” Si mbak guru menjawab. Masih dengan senyum. “Oh, yes. I see. The weather. Its warm Satrya. Its warm..” Sampai sekarang saya ndak paham kenapa mereka menyebut warm. Bagi saya ya kalau ndak panas ya dingin. Ndak ada hangat. Kalo hangat, ya teh anget ada. Kalau panas ya hot potatoes. Panas kentang-kentang. Maap ya mbak. Hot iku cuacane. Dhudhuk awakmu #baladatrafficwarden View on Path Lanjutkan membaca