Apa Salah Babi?

    Apa salah babi? Babi bukan hewan langka menjelang punah yang dilindungi. Silahkan berteriak jika banyak yang jual gajah guling. Atau komodo guling. Menjual babi guling sama sah-nya dengan menjual bantal guling. Bedanya cuman, babi guling bisa dimakan dan lezat. Bantal guling, menurut saya tak bisa dimakan, dan saya yakin tak lezat, entahlah kalau menurut Ahmad Dhani. Apa salah babi? Babi guling tak melanggar konstitusi. Jadi, selama tak melanggar konstitusi, babi guling bebas dijual di mana saja di negeri ini. Tak hanya di tikungan. Apakagi disangkutpautkan dengan pemerintahan Jokowi. Hanya karena ada yang jual babi guling, lalu anda mau … Lanjutkan membaca Apa Salah Babi?

Absurd

Dulu, saya pikir posting di fesbuk sambil boker adalah sebuah absurditas social media. Saya sering melakukan itu. Bahkan pada posting paling serius sekalipun. Hingga kini. Lalu, ada yang posting selfie depan mayat, atau lokasi korban kecelakaan atau teroris. Untung saya ndak posting foto saya lagi boker. kini, ada yang posting foto surat pengangkatan dirinya sebagai salah satu staf dalam badan intelejen negara. Rasanya, postingan fesbuk sambil boker tak ada artinya. Tak ada lagi nilai absurditasnya. Perth, 1 februari 2016 Lanjutkan membaca Absurd

Rumitnya Pemanggang Roti

Seorang teman memberikan pemanggang roti. Ternyata, pemanggang roti itu rumit. Pemanggang roti ini buatan China. Jelas ada tulisan Made in China. Namun, pada spesifikasi teknis, memakai huruf kanji. Istri saya memastikan itu dalam huruf dan bahasa korea. Bukan China atau Jepang. Katanya, karena pada aksara itu ada unsur bulat-bulatnya. Emboh, saya ya percaya saja. Lalu, gambar pemanggang roti itu ada visual dan merk Hello Kitty – yang walau namanya pakai Bahasa Inggris, itu icon Jepang. Jangan tanya saya kenapa namanya Hello Kitty. Yang menambah rumit lagi, system kelistrikannya memakai system kelistrikan Indonesia, atau sebagian besar Asia. Colokan dua bulat. Nah, pemanggang … Lanjutkan membaca Rumitnya Pemanggang Roti

Masa lalu

Masa lalu itu memang mudah dibawa lagi jika kita tak bisa menghadapi masa kini. Misal, presiden lalu selalu dicari enaknya dan dibandingkan dengan presiden kini. Bukan berarti presiden kini lebih baik. Atau lebih buruk. Semua pasti punya baik buruknya. Bedanya sederhana. Di masa lalu ndak ada media sosial yang bisa dipakai melampiaskan nafsu lambe-mu.  Itu saja. Lanjutkan membaca Masa lalu

Kualitas Diri Bukan Karena Sekolah Bergengsi

Pertanyaan klasik muncul dari mahasiswa saya. “Apakah sekolah di luar negeri itu jauh lebib baik, bergengsi dan berkualitas dibandingkan dengan sekolah di dalam negeri?’ Jawabannya sederhana: Kualitas diri tidak ditentukan dari dimana kita studi. Tapi dari bagaimana kita studi. Jadi, mau sekolah di luar negeri, di dalam negeri, bahkan di luar angkasa sekalipun kalau anda memang dasarnya kampret, ya tetap saja kualitas kampret. Saya yang memang pada dasarnya manis ini, biar sekolah keluar negeri, tetap saja manis. Ndak bisa berubah jadi ganteng. Jadi, sudahlah. Ndak usah terpukau dulu dengan sekolahnya. Kamu jadi keren bukan karena sekolahmu keren. Kamu jadi keren … Lanjutkan membaca Kualitas Diri Bukan Karena Sekolah Bergengsi

Memedi Tepi Kali

Sungai dengan rimbunan bambu itu dulu sangat menakutkan bagi kami. Kata orang, tempat memedi bersembunyi. Jika harus bermain kesana, kami harus memegang udel dulu (buset dah) sendiri. (Iya, masak udel orang lain. Geli!) Kini, di tepinya berdiri hotel dengan embel-embel River View, tanpa rimbunan bambu. Keren juga namanya, coba kalau namanya hotel tepi kali. Para memedi, mungkin sudah lari. #memorikuta Lanjutkan membaca Memedi Tepi Kali

Pagi. Saat menanti bis di pagi hari. Untuk membunuh kebosanan menanti, saya bersenandung lirih. Lirih sekali. Lagu yang kebetulan terlintas di kepala di saat pagi. Lagu yang jadi penutup acara favorit Echa dan Diva saat pagi: the Furchester Hotel, seri dari Sesame Street. “Dont check out..dont check out..please please..” Seorang anak kecil di depan saya menoleh dengan ekspresi wajah aneh. Kemudian bicara kepada jbunya di sebelahnya, “mom, the man behind us is singing the furchester hotel. Isnt he too old for that song?” Saya langsung mingkem. Jangkrik. I love Elmo as well kiddos! Asyem.. View on Path Lanjutkan membaca