Apa Salah Babi?

    Apa salah babi? Babi bukan hewan langka menjelang punah yang dilindungi. Silahkan berteriak jika banyak yang jual gajah guling. Atau komodo guling. Menjual babi guling sama sah-nya dengan menjual bantal guling. Bedanya cuman, babi guling bisa dimakan dan lezat. Bantal guling, menurut saya tak bisa dimakan, dan saya yakin tak lezat, entahlah kalau menurut Ahmad Dhani. Apa salah babi? Babi guling tak melanggar konstitusi. Jadi, selama tak melanggar konstitusi, babi guling bebas dijual di mana saja di negeri ini. Tak hanya di tikungan. Apakagi disangkutpautkan dengan pemerintahan Jokowi. Hanya karena ada yang jual babi guling, lalu anda mau … Lanjutkan membaca Apa Salah Babi?

Pengantar Sikap Akademisi Muda Bali (AMUBA) tentang Reklamasi Teluk Benoa

Akademisi, dengan tanggung jawab profesi dan sejarahnya, dituntut untuk senantiasa memberikan kontribusi positif dan relevan bagi bangsanya. Tak terkecuali Akademisi Muda Bali, AMUBA sudah seharusnya berkontribusi terhadap tanah leluhurnya yang kini berada dalam ‘simpang jalan’ pembangunan dengan memberikan konstribusi yang berimbang. Kontribusi ini kami kemas dalam ‘Pernyataan Sikap” Akademisi Muda Bali (AMUBA). Adapun latar belakang pernyataan sikap tersebut adalah: Pertama, sebagai bentuk pertanggungjawaban serta klarifikasi posisi Akademisi Muda Bali. Selama ini belum ada sikap formal dari akademisi Bali tentang polemik reklamasi Teluk Benoa. Yang ada adalah, keterlibatan sebagian kecil akademisi Bali dalam meloloskan studi kelayakan reklamasi Teluk Benoa oleh PT … Lanjutkan membaca Pengantar Sikap Akademisi Muda Bali (AMUBA) tentang Reklamasi Teluk Benoa

Inisiator Akademisi Muda Bali (AMUBA) dan pendukung pernyataan sikap:

  Sadwika Salain, ST, M.Eng (Biomed), kandidat PhD di The Intelligence Systems for Medicine Laboratory (ISML), The University of Western Australia, dosen Kopertis Wil. VIII dpk Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa, Bali. Agung Wardana, S.H., LL.M, kandidat PhD di Asia Research Center (ARC), Murdoch University, Australia, dosen Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada. IGAB Eka Sucahya, alumni Universitas Gadjah Mada. Luh Putu Mahyuni, kandidat PhD Curtin Business School, Curtin University – Western Australia. IGAK Satrya Wibawa, Staf pengajar Departemen Komunikasi FISIP, Unair Surabaya. mahasiswa Doktoral, Media Culture & Creative Arts, Curtin University, Australia. Yogi Paramitha, S.H., M.H., alumni Pascasarjana Universitas Udayana. IGAA … Lanjutkan membaca Inisiator Akademisi Muda Bali (AMUBA) dan pendukung pernyataan sikap:

Pernyataan Sikap AKADEMISI MUDA BALI (AMUBA) Atas Kontroversi Rencana Proyek PT TWBI di Teluk Benoa

  Kami, Akademisi Muda Bali (AMUBA), merupakan jaringan dosen, pengajar, guru, peneliti dan cendikia yang tersebar di Bali maupun di luar Bali, namun disatukan oleh sebuah ikatan emosional bahwa Bali merupakan ‘rumah’ kami.  Mengikuti polemik atas proyek PT Tirta Wahana Bali International (PT TWBI) yang ingin membangun resort mewah diatas pulau-pulau buatan melalui reklamasi di Teluk Benoa, kami memiliki tanggung jawab sosial dan intelektual untuk memberikan pandangan kami. Melalui pernyataan sikap ini, kami ingin menyampaikan posisi kami sebagai berikut: Kami menilai bahwa Kawasan Teluk Benoa merupakan areal sumber daya bersama (common resource pool) yang penting secara sosial, ekonomi dan lingkungan … Lanjutkan membaca Pernyataan Sikap AKADEMISI MUDA BALI (AMUBA) Atas Kontroversi Rencana Proyek PT TWBI di Teluk Benoa

Satu Trilyun itu…(2)

  Saya membayangkan satu trilyun itu memang banyak. Mungkin dapat membuat para penguasa di Jakarta dan di Bali tak bisa berbuat banyak. Tapi, itu membuat banyak rakyat Bali merasa sesak. Jika sudah tak tertahankan, bisa muak. Sehingga, sekarang mereka berteriak. Walau saya yakin, bagi Oom Tommy, satu trilyun itu tak banyak. Saya membayangkan satu trilyun itu memang banyak. Jika kemarin saya memberikan penawaran bahwa satu triyun itu bisa dipergunakan untuk mengoptimalkan per-babian: https://satryawibawa.com/2016/02/15/satu-trilyun-itu-1/ Maka, sekarang saya coba tawarkan hal lain. Satu trilyun itu mungkin bisa dibuatkan sebagai sebuah awal pusat riset dan data seni budaya Bali. Misalkan saja mengakomodasi para … Lanjutkan membaca Satu Trilyun itu…(2)

Satu Trilyun itu… (1)

Saya tak pernah membayangkan punya uang satu trilyun. Tapi mendengar Oom Tommy sudah menghabiskan satu trilyun untuk proyek reklamasi teluk Benoa, saya jadi bertanya-tanya. Seberapa ya uang satu trilyun itu? Saya  bayangkan satu trilyun itu dapat digunakan untuk babi. Satu trilyun itu mungkin bisa dibuatkan peternakan dan pusat riset Babi terpadu. Babi adalah makanan khas Bali. Sehingga, menjaga kesinambungan hidup para babi adalah PR penting untuk masa depan. Pusat peternakan ini akan menjadi salah satu sumber penting asupan babi bagi seluruh pedagang babi guling dan olahannya di Bali. Bahkan, di Indonesia. Kalau perlu keluar negeri. Pusat riset terpadu ini juga … Lanjutkan membaca Satu Trilyun itu… (1)

Aura Babi Guling

  Sudahlah. Saya sudah tak membahas soal wisata syariah itu. Di Bali sendiri sudah berhenti polemiknya. Sudah saling bermaafan. Terima kasih juga kepada yang pertama mencuatkan isu itu karena setidaknya ini menjadi pemicu dan pemacu bagi orang Bali sendiri untuk melakukan evaluasi ke dalam. Bagaimanakah strategi pariwisata Bali ke depannya? Apakah melanjutkan pembangunan fisik seperti saat ini, sehingga insvestor tambun macam reklamasi teluk benoa kepincut? Belajar dari tempat lain memang bagus, tapi tak harus diterapkan semua. Memaksimalkan apa yang dipunya juga luar biasa. Andaikan saya menang lotere bermilyar-milyar, saya mau membuat usaha Babi Guling. Membuat dia seperti pizza-nya Italia, Gudeg-nya … Lanjutkan membaca Aura Babi Guling

(kem) BALI

memilih keluar dari Bali sesungguhnya adalah pilihan sulit. Aku tahu, Ajik dan Ibu sebetulnya tidak setuju dengan pilihanku ini. Mereka kerap bilang, Blidek pun akan disuruh pulang saat lulus nanti dari ITS. Aku tahu, Ajik dan Ibu berkorban sangat banyak untuk kami. Blitu dengan kedokterannya, tak kecil biaya yang harus dikeluarkan. Blidek yang di Surabaya, tiap bulan Ajik selalu ke Bank, mengirimkan uang untuk Blidek.  Aku tidak akan pernah lupa wajah letih Ajik begitu pulang dari Hotel. kami tidak akan pernah protes saat Ajik terlambat pulang, atau pulang malam. Karena uang lembur menjadi sangat berarti. Juga, pulang malam seringkali berarti … Lanjutkan membaca (kem) BALI