Air botol.

  Nyampe kampus saya bergegas mencari perlengkapan penting ini: air dalam botol dan tissue basah. Jalan dipercepat, saat mau keluar ruangan saya disapa teman sesama mahasiswa dari Australia. “Satrya, where are you going?” “Hi, yeah i just need to do something now” “You are very healthy. Drink water and I saw you everyday with that bottle.” “Yeah, i am trying to…can i excuse me for a while?” “Yeah sure, it looks you are in hurry” Saya langsung bergegas ke kamar mandi. Perut sudah bergejolak sejak tadi. Yah, ngising. Air ini? Yo penting yo. Gawe cebok… View on Path Lanjutkan membaca Air botol.

Selalu

Selalu. Tiap konferensi selalu saja ada peserta yang bertanya tapi berkata jauh lebih banyak daripada pembicara, sehingga sang pembicara harus balik bertanya “i m sorry, what is your question anyway?” Yang kembali dijawab dengan penjelasan. Bukan pertanyaan. Lalu ada juga orang yang “taking everything over seriously”. Seperti siang ini. Saat makan siang, saya disapa drngan pertanyaan “are you happy with this?” Dan berlanjutlah dengan pernyataan happiness is a subjective deconstruction of insecure feeling. Obladi obladaz.. Saya tentu mendengarkan dengan baik. Sesekali mengangguk. Sesekali berkata “true”. Sambil melirik, apakah jatah udang panggangnya masih banyak. Akhirnya dia menutup diskusinya drngan berkata “you … Lanjutkan membaca Selalu

Conferensi. Bali

Ikutan interdisciplinary conference soal tema yang berbau psikologi ini emang bikin degdegplas. Yang ikutan juga kayaknya para dewa di bidangnya. Udah pada tua semua pula. Eh, ndak semua. Saya masih remaja. Remaja akhir. Akhiiiiiiiirrrt banget. Dari judul presentasi aja udah keren-keren. Saya minder sendirian nih. Jadi, ketimbang salah omong, mending jadi pendengar yang baek. Duduk manis. Iya, duduk aja saya udah manis. Apalagi njengking… Saat break juga drgdegplas. Takut ditanya masalah-masalah langit. Di depan saya tadi, peserta dari NZ diskusi dengan peserta dari palestine. Bahasnya udah bicara dekonstruksi mitologi hero gitu. Puncaknya, pakde yang jadi pembicara kunci, yang bukunya saya … Lanjutkan membaca Conferensi. Bali

Kerjaan..(1)

  Iya, saya mau ngomongin kerjaan. Ndak usah protes. (Yang protes loh sopohh?). kalau ngomongin soal kesibukan sebagai mahasiswa, yo wes jelas. Tiap hari juga dikerjakan. Walau lambat. Saya tidak sejenius teman-teman saya, yang mimpi-pun masih merafal teori. Selama di negeri ini, saya baru sadar belakangan bawah saya sudah menjalani beragam jenis kerjaan. Mulai dari sejak sekolah ambil S2 delapan tahun lalu hingga kini. Saya runtut ulang, cukup beragam, kesamaanya satu. Tapi saya bahas nanti saja. Nah pekerjaan itu antara lain: Junk-mail deliverer. Ini kerjaannya nganter brosur-brosur promosi perusahaan ke rumah-rumah. Pekerjaan cocok buat yang malas olahraga kayak saya. Sekalian … Lanjutkan membaca Kerjaan..(1)

Rutinitas

  Saya orang yang seringkali tanpa sadar membuat rutinitas dalam keseharian. Padahal kalau menurut Deeks dalam satu dialog-nya dengan Kensi, dalam salah satu episode NCIS:LA, rutinitas bisa membuat kehidupan kita terbaca orang. “They will easily kidnap you. Or worse, shot you at the place you usually stop for a while after your morning walking”.  Tentu, ini bukan soal orang lain ingin menculik saya. Apa untungnya nyulik saya. Ganteng yo gak, sugih yo gak. Saya cuman dosen bersahaja dan manis-manis saja. Eits..intinya, rutinitas itu kadang memang membuat orang mudah “memetakan” kita. Jadi, kata Deek, “Change your daily routine..”. Ini yang agak … Lanjutkan membaca Rutinitas

Persoalanku Sepatu. (Bukan Jonru).

Sekarang, lagi banyak yang ribut soal dua hal. Sepatu pak polisi dan Jonru. Kalau Jonru, sudahlah. Masih banyak yang lebih penting. Saya mirip dengan pak polisi yang kemarin diributkan itu. bedanya kalau beliau diributkan mamah-mamah muda, saya selalu bermasalah dengan sepatu. Sejak dulu. Entah kenapa saya dilahirkan dengan model kaki jembar. (Sek, jembar iki opo yo?). Kaki saya lebar. Dan luas. Untung cuman jembar. Coba kalau bisa lengket di tembok. Kemungkinannya ada dua: saya jadi bintang pelem spiderman, atau nama saya masuk lagu anak-anak. (Igak..igak di dinding..diam-diam merayap..)   (keterangan foto; Mohon fokus ke sepatunya. Bukan. Bukan karena bermerk seperti … Lanjutkan membaca Persoalanku Sepatu. (Bukan Jonru).

Cukur Rambut yang Tak Bikin Semrawut

  Ada stereotype yang selalu ditimpakan kepada mereka yang kuliah di luar negeri, terutama untuk para pria, yaitu rambutnya selalu gondrong. Banyak yang bilang, beberapa kawan pria, entah kenapa, di parade foto, terlihat gondrong. Atau memang gondrong. Biasanya yang bujang-bujang, atau terpaksa membujang. Atau pencitraan buar kelihatan bujang. Atau membujangkan diri. Modus nih. Tapi yang bawa keluarga juga banyak yang gondrong kok. Karena memang seringkali yang dipersoalkan adalah biaya cukur rambut tergolong relative mahal. Itu cukur rambut doing lo yah, yang enggres-nya di barber shop. Belum yang salon. Tambah bikin ngenes. Apalagi karena sejak awal dikonversikan ke rupiah. Sehingga, cukur … Lanjutkan membaca Cukur Rambut yang Tak Bikin Semrawut