Sticker

Dulu, waktu jaman temulawak dalam botol adalah minuman anak bangsa dan permen karet bentuknya bulat kayak gundu, saya paling bangga drngan tempelan stiker voltus lima di tangan. Kadang di jidat. Lalu, sempat juga jaman stiker ala tato. Ditempel di tangan drngan bantuan air hangat. Tato unyil. Kini, demi tokoh favorit, Diva menempelkan hansaplast di tangan. Hansaplast bergambar peppa pig. Saya manfaatkan sekalian menambah kosa kata Diva. “What is this Diva?” “Car. Red Car. With peppa” “Which one is Peppa?” Diva sigap menunjuk gambar peppa. Lalu dia menunjuk gambar George sambil berteriak “this is George. Dinasaurs…roaaaar..” “Who is this?” “Mommy Pig” … Lanjutkan membaca Sticker

Maling Sepeda

Mendapat barang bekas di sini relatif mudah dan menyenangkan. Ada musimnya orang membuang barangnya yang rusak atau yang memang sudah bosan. Tadi malam, waktu mengantar pizza ke daerah Parkwood, lagi jadwal buang barang di daerah itu. Langsung dong saya jelalatan. Liat barang yang bisa diambil. Saya punya tiga sepeda dewasa dan dua anak-anak. Yang sepeda dewasa dapet dari teman satu dan dua dari mungut di jalan. Udah dipake? Ya ndaklah. Pertanyaan macam apa itu? Bersepeda itu sebuah harapan. Untuk dilaksanakan di masa depan. Entah kapan. Nah, saya rencananya mau ganti sepeda Diva. Di rumah, sepeda Diva sudah karatan. Lha jelas … Lanjutkan membaca Maling Sepeda

Dipstik

Tantangan punya dua putri yang usianya terpaut agak jauh adalah saat yang tertua mulai kenal dan menyukai rias wajah — karena ngelihat ibunya rias wajah untuk menari — dan juga menyeret adiknya sebagai boneka uji coba. Maka, walau tidak mencoba kaget, rengekan Diva pagi-pagi saat saya baru bangun, cukup membuat saya bengong sesaat; “Ajikkk…i want dipstik..” “Heh?” “Dipstik..” Ngeh saat melihat pipinya menor kena lipstik semalam. *sigh View on Path Lanjutkan membaca Dipstik

Cita-Cita Echa

Cita-Cita Bukan, ini bukan soal penyanyi dangdut itu. Ini soal cita-cita Echa. Cita-cita Echa jauh lebih variatif daripada cita-cita saya dulu. Dulu, cita-cita saya sebatas: dokter, polisi, pilot. Echa lebih variatif. Saat ngobrol bersama Ibunya, Echa bicara soal cita-citanya. Tentu dalam bahasa Inggris. Ya, dia sekarang jadi polisi grammar untuk kami. Kadang seneng, kadang nyebelin. Coba, saat ngomelin dia yang ndak pernah merapikan kamarnya, eh yang dia lakukan malah membetulkan grammar saya atau ibunya. Kan marahnya jadi ndak asyik. “Ajik, bed, not bet..” Oh, soal cita-cita… “Ibu, aku tahu mau jadi apa nanti..” “Ohya? Jadi apa coba?” “Aku mau jadi … Lanjutkan membaca Cita-Cita Echa

Lottery. Bali. Bangladesh

Lottery “Have you won any lotteries, mate?” Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul. Ditujukan kepada saya. Saya gelagapan. Saya sedang menunggu cucian di tempat cucian umum ini. Yang bertanya seorang bapak-bapak yang juga menunggu cuciannya. Sebetulnya saya agak kesal, karena bapak ini memakai srmua mesin cuci yang ada sehingga saya musti menunggu satu mesin yang dia pakai. Saya menjawab, “yeah, sort of. My biggest winning was 24 dollar” “Yeah, me too. What will you do if you win 1 millions?” Tanyanya lagi. Saya menggeleng. Saya tak berminat berkhayal saat ini. Saya mikir cucian saya belum tuntas sementara nanti saya harus mengantar … Lanjutkan membaca Lottery. Bali. Bangladesh

KFC

Eddie dan KFC Diva sering memadukan kalimat-kalimat baru yang dia ingat. Terutama yang didengar dari peppa pig atau dari kakaknya. Bahasa inggris dan Indonesia dicampur baur. Seperti saat perjalanan kami ke Gnomesville. Sepanjang 2 jam perjalanan, Echa berdebat dengan kami soal nama gnome yang akan kami letakkan di kampung Gnome itu. “Is there any rules for naming the gnome, ajik?” “I dont think so. As long as people knows the gnome from you and diva” “Okay, how about Alexandra?” “What? How about the name represents you and diva?” Istri saya mengusulkan “how about Eddy?” “No ibu. It sounds like man’s … Lanjutkan membaca KFC

Apresiasi

Apresiasi. Ini memang hal sederhana. Apresiasi terhadap baby Diva karena sudah berhasil mencapai kemampuan untuk “freefall”. Mirip-mirip lah sama prestasi bapaknya. Sama-sama freefall juga. Bedanya, yang Diva pertanda bagus untuk berani berenang, yang bapaknya freefall karena ancen gak iso renang sama urusan kapasitas lemak yang sedikit di atas rata-rata normal dan lingkar perut yang sedikiiiiitttt di atas standar. Begitulah. Wes, ndak usah nyolot. Aku wes nyolotin diri sendiri. View on Path Lanjutkan membaca Apresiasi

Dinosaurs.

  Mampir sebentar ke kampus. Saatnya babysitting sementara istri menemani echa nonton film bersama temannya. Dari jauh Diva sudah melihat mural di gedung kampus saya. Dia berteriak2,”Dinosaurs…roarrrr”, menirukan George, adiknya Peppa Pig. “That is not dinosaurs, Diva” Diva terdiam dengan cemberut. Dia ndak setuju dengan bantahan saya. “That Dinosaurs…roaarrr” Saya mengalah. Ya sudah. Dia minta foto. Pake hape. Gagal beberapa kali karena dia terus berloncatan sambil teriak “roaarrr” Saat itu seorang ibu-ibu keluar dari gedung. Melihat kami. Tertawa. Saat saya selesai, dia menyapa, “thats a big dinosaurs for you, little girl..” Diva menoleh. Seperti biasa dia beringsut mendekati saya. Malu. … Lanjutkan membaca Dinosaurs.

Semut

Semut.Diva ini tak terduga. Malam ini, saat saya sedang makan, dia bergegas mendekati saya sambil teriak,”ants…ajik, ants..there” Tangannya menunjuk ke ruang keluarga. Iya, selain lalat, semua juga bisa bikin dia teriak-teriak. Saya jawab, “thats ok, Diva…” “No way..ants, there” mukanya cemberut. Dia berharap saya membersihkan semut-semut itu. Akhirnya dia beringsut kembali. Saya kembali makan. Menunya ikan goreng. Pake sambal. Tak terkira nikmatnya. Lalu saya melihat Diva lewat dan masuk dapur. Saya biarkan. Eh, sekali lagi dia lewat, masuk dapur, terus kembali lagi. Begitu terus sampai keempat kalinya, saya jadi ingin tahu. “Diva, what are you doing?” Dia berhenti sambil mengacungkan … Lanjutkan membaca Semut