Misuh Saya dulu itu sopan, bahasanya halus, baik budi, tak sombong suka menolong, manis, berbudi luhur. Sungguh. Kalau tak percaya, coba tanya saya. Pasti saya benarkan. Saya hobi misuh sejak di tinggal di Surabaya. tepatnya sejak berkenalan dengan kawan-kawan saya yang asli Surabaya, saya jadi hobi misuh. Setiap saat misuh. Macam, “Jancuk…wetengku sakit kepengin ngising..cuk”. Barangkali, itu adalah cara paling gampang buat saya untuk masuk ke dalam budaya Surabaya. Saya menyukainya. Sepenuh hati. Dan misuh ini keluar spontan tanpa memandang batas usia dan sosial. Dari kawan yang religius penuh doa hingga kawan yang tiada hari tanpa ganja. Dari kawan yang … Lanjutkan membaca

“Dont forget to take a shower after swimming, Kakak” “I will, Ajik. I always do it” “But last week, I still smelt chlorofyll after you took a shower” “Really? Not today, I promise you. And Ajik..” “Yes?” “It’s chlorine. Not Chlorofyll” “Ah okay. I mean that. And not much difference” “Its totally different, Ajik..” Itulah kenapa nilai kimia saya 4 waktu SMA. Chlorofyll dan Chlorine aja ndak tahu bedanya. #ceritaechadiva View on Path Lanjutkan membaca