Nama (1)

Nama selalu jadi masalah buat saya. Bukan, kali ini bukan nama saya. Tapi nama anak-anak yang harus saya panggilin kalau mobil orangtuanya datang menjemput. tahun ini, entah kenapa, banyak sekali anak yang namanya sama. Tahun lalu tak seberapa. Kali ini, ada tiga anak namanya Chloe, dua bernama Bella, tiga sophie, dan yang luar biasa anak empat anak namanya Lauren. Ini campuran antara kelas tiga dan enam.

Sejak awal sekolah dimulai saya sudah wanti-wanti ke orangtua yang anaknya namanya sama, agar mencantumkan inisial atau huruf depan nama belakang anaknya. Jadi seperti tahun lalu, ada Sophie M, Sophie L dan Sophie C. Tapi entah kenapa, orangtua yang tahun ini agak cuek. Sehingga hingga minggu keempat ini, lembar kertas nama mereka di mobil masih tak berubah.

Saya tak mungkin mengingat nama mereka satu persatu dengan mobil atau muka orangtua yang datang. Aku gak dibayar buat itu lo yah. Saya hanya punya waktu sekian detik untuk melihat mobil yang datang dari tanjakan, melihat warna kertasnya (merah untuk kelas 3 dan putih untuk kelas 6), lalu mengarahkan ke jalur antrian kiri atau kanan, dan dalam sekian detik itu sementara mobil tetap berjalan, saya harus membaca nama dalam kertas dan memanggil anaknya. Plus melihat situasi apakah ada yang menyeberang. Beraaaaat Dilaaaan. lebih berat dari cuman bilang rindu. Sehingga kadang saya berimprovisasi biar cepat.

Seperti kemarin sore, anak kelas 3 datang terlambat dari jadwal sehingga bersamaan datangnya dengan kelas 6. Saya sudah spanneng. Masang muka galak biar para emak-emak, bapak-bapak maupun oma opa yang menjemput patuh pada isyarat pedang saber yang saya berikan. tentu sambil jelalatan melihat lembar nama. Lalu mulailah kekacauan itu. Mobil mulai datang berjejeran panjang masuk areal penjemputan. Tngan saya sibuk memberi tanda sambil tereak-tereak.
“melissa year 3”, “Katrine year 6”, “Alexa year 6”, “Marry year 3” sampai datang mobil dengan nama chloe berjejer tiga, yang langsung saya samber, “Chloe year 3”, “Another Chloe, year 3”, “Chloe again, year 6”.

Banter sih. Saya yakin. Jarno…salahnya para orangtua itu ndak masang nama tambahan seperti yang sudah saya sarankan. Beberapa orangtua kelihatan cekikikan. Lalu tiba-tiba, dari belakang saya dengar ada panggilan,

“Excuse me mister..”
Saya menoleh. Anak kecil, kelas 3, keriting-ikal, tingginya tak lebih tinggi dari Diva tampaknya. Dia berdiri sambil menyeret tas ransel segede gaban. Muka cemberut. Mulutnya agak monyong. Lucu sih.

“yes?”
“My name is Chloe Marrisa. Not “Another Chloe”

Saya bengong sesaat. Mencoba mencerna. Oh okay. Dia sewot saya nyebut “Another Chloe”. Saya cuman nyengir lalu menjawab,

“okay. I get that. Thank you”
“You are welcome”

Dia lalu balik badan dan masuk ke mobil ibunya. Ibunya berdiri sambil cekikikan lalu berkata ke saya,

“My bad…i will add her initial tomorrow”

Saya tersenyum sambil mbatin. Sesuk, lek sik pancet cuman ditulis Chloe, anakmu bakal tak celuk:

Chloe sing keriting…!!
atau Chloe sing ibuke wingi janji…!!
atau Chloe sing wingi nyeneni aku…!

Ben kapok.

Dargombes!

#baladatrafficwarden

View on Path