Salah Sekolah

Sekolah ini punya sodara. Kalau yang tempat saya kerja itu skolah (khusus) cewek, yang satunya sekolah (khusus) cowok. tempatnya agak jauhan. Tapi cukup membuat puyeng para ornagtua yang harus nganter anak-anak mereka ke dua sekolah itu. Seperti pagi ini.

Satu mobil merapat ke tempat saya jaga. Kaca dibuka, dan bapak-bapak berdasi dan harum mewangi bertanya.
“Morning mate, how are you doing?”
“Good sir, how are you?”
“I am good, thanks. Can I ask you a question?”
“yes, sure”
“This is my first time. Where should I drop my son off?”
“Excuse me. Your son?”
“Yes, this is our first day”

Saya lihat di sebelahnya, seorang anak laki-laki duduk dengan muka manyun. Sepertinya dia masih SD.

“But sir, do you realize this is P******, and not W***** ?

Si bapak bengong. Lalu dia berucap.
“Oh my God. What i have done. I dropped my daughter at the wrong school…”

Dia langsung pergi tancap gas.
Saya ingin ngakak tapi berusaha simpati karena membayangkan anak perempuannya bengong berdiri di sekolah yang isinya cowok semua. Semoga ada guru yang melihatnya.

Saya jadi inget dulu waktu mengantar Echa sekolah pagi di Sidoarjo. Pagi-pagi dengan semangat membonceng Echa duduk di depan dengan motor kesayangan, membelah pagi jalan lingkar timur. Berusaha membalap truk-truk yang sopirnya seperti diuber setan. Menikmati hembusan kabut tambak di kiri kanan lingkar timur. Lalu berhenti di daerah gedangan menunggu komuter pagi lewat. Echa tetiba bertanya,

“Ajik, sekolah Echa kok lewat sini?”

Saya baru nyadar. Bajigur. Saya harusnya mengantar Echa ke sekolahnya di perumahan citra Garden sana, kok saya malah bawa ke rute berangkat kerja ke Surabaya.

AKhirnya balik kucing ke arah Sidoarjo.
Tembelek kambing panuan bener…

#baladatrafficwarden
#kisahechadiva

View on Path