Your Fault

Kemarin itu memang luar biasa. Sekolah segede gambreng begini, dengan kebrutalan para orangtuanya menjemput anaknya mengakibatkan kemacetan di dalam areal sekolah hingga 10 menit, mobil tak bisa bergerak. Saya sampai harus mondar-mandir membuat contra-flow dan mengarahkan mobil biar mereka bisa keluar halaman sekolah. Jadi kalau lihat sosok segede beruang pake seragam biru dengan rompi glowing in the dark warna ijo berlarian, itu mungkin ulat ijo atau bisa jadi saya.

Lalu datang mbah-mbah.. Saat dia mulai parkir di antrian terdepan, saya merasa tahu mobil itu. Oh, itu mbah yang terkadang menjemput anaknya di tempat saya ini tahun lalu. Loh, kenapa ikutan antri di sini? Harusnya dia antri di gerbang yang lain. Saya datangi:

“Excuse me Maam. Are you picking up *****?”
“Yes, as usual”
“But Maam, you should pick her up at another gate. Not here. Here is only for year 3 and 6”
“But last year, I always picked her up here”
“Yes, I know that. But she is not in year 3 anymore now. She is in year 4, right?”
“But nobody tells me.It is long line everywhere. I will wait here”
“I am sorry, you can’t do that. You will block this line. It is unfair to other parents”
“No, I don’t want to..”

Lalu dia nutup kaca. Diamput. Jadi saya tinggalkan saja dia. Tentu, mobil mbah itu jadi penghalang, mobil di belakang dia harus mengambil haluan tengah. Jalur jadi kacau. Saya lalu mendatangi guru kelas 3 meminta dia ngomong ke si mbah.

Si guru mendatangi. Mereka terlihat adu argumentasi. Si guru kembali, dengan muka gusar, tapi puas dan bilang ke saya, “She is so difficult. But she will move her car”.

Saya lalu mendekati mobil si mbah, bermaksud membantu dia keluar antrian yang kacau balau karena ulahnya. Saat dekat, eh tiba-tiba dia buka kaca lagi, lalu teriak, “Why you did not tell me that I have to pick up at other gate? This is your fault!”. Lalu menutup jendela dan pergi.

Saya bengong. Mamah-mamah di belakang si mbah tadi yang melihat kejadian itu ngikik-ngikik. Dargombes.

Jiancuk…Kok saiki jadi salahku?

Dilan, tampar aku Dilan. Tampar aku dengan rindumu..

#baladatrafficwarden

View on Path