Biasanya saya beli makan siang di supermarket dekat kampus. Mereka menyediakan menu makan siang dalam kotak (hot lunch/dinner meal) dengan harga sangat murah untuk ukuran Perth, cuman lima dollar dengan menu beragam. Jauh lebih murah dibandingkan dengan menu serupa di kantin kampus saya yang paling murahnya mencapai 9-10 dollar. Kantin-kantin di kampus saya ini memang mbelgedhes harganya. Belum lagi rasanya ambyar ndargombes. Barangkali kuah bekas kobokan tangan lebih berasa.

Nah, karena murah itulah saya rutin membeli makan siang di supermarket itu. Sekali datang, beli tiga atau empat box tergantung menu saat itu. Lalu disimpan di kulkas. Tiap tiga atau empat hari sekali belanja lagu. Begitu seterusnya, hingga kebiasaan ini dihafal oleh kasir-kasir di supermarket itu.

Saya jadi tahu karena kapan hari, setelah sebulan lebih di Indonesia, saya kembali membeli stok makan siang. Eh si mbak kasir menyapa,

“How are you? I havent seen you for a long time..”
“Oh, i went back to my country for a month”
“Oh i see. No more holiday, now..”
“Yeah, sort of. Back to normal life..”
“Too bad…anyway, are you a medical student?”
“What? Oh no. I am not a medical student…”
“Sorry, you look like a medical student..”
“Naaa, i am not that genius..”

Saya sudah hampir melupakan percakapan itu. Sampai siang ini, saya ke supermarket itu lagi, ketemu kasir yang lain, percakapan serupa kembali terulang. Termasuk pertanyaan, “are you a medical student?”.
Seperti de ja vu…

Saya jadi merenungkan kembali hidup saya. Jangan-jangan saya memang ditakdirkan untuk jadi medical student. Tapi begitu ingat kembali saat lulus SMA nilai kimia 4, fisika 5, biologi 5, matematika 5, rasa-rasanya dunia kedokteran sungguh gawat jika saya jadi mahasiswa kedokteran.

Tapi, nilai agama saya 8, bahasa indonesia 9 dan PMP 8. Buset….

Saya sungguh tak tahu arah hidup saya.

Mungkin itu sebabnya saya masuk komunikasi.

#baladamahasiswaestiga
#studentlife
#janganpercayanilairaport

View on Path