Belajar Bahasa

Echa menonton film Indonesia pertama kali usia tiga tahun. Saya lupa yang mana, karena sejak saat itu, setiap ada film anak-anak Indonesia yang baru dirilis, Echa pasti kami ajak nonton di bioskop.

Kini saat kami di Perth, dia juga tetap menonton film anak-anak Indonesia. Kali ini menonton film anak-anak yang menjadi materi riset saya. Walau tak semudah dulu. Bukan apa-apa, kendala bahasa kini muncul. Sehingga dia lebih memilih yang ada subtitle inggris. Walau tetap saja, dia menikmati film yanh tak ada terjemahan inggrisnya. Saya yang harus membantu menjelaskan. Tak semua tentunya. Itulah indahnya bahasa visual.

Proses riset ini ternyata tak hanya buat saya, tapi juga buat Echa. Sebagai bagian mengingat bahasa, dan juga, identitas sebagai Indonesia. Cuman ya kadang tak semua lancar, terutama saat kapan hari untuk menuntaskan chapter tiga dan empat, film anak2 lawas harus dikupas, seperti Djenderal Kantjil produksi tahun 1958. Hitam putih dan warna burek semua. Pemainnya ahmad albar waktu kecil. Ndak usah dikasih tahu namanya, waktu lihat rambutnya, udah tahu kalau itu ahmad albar!!

Selesai menonton film-film itu…

“Ajik…”
“Yes?”
“This is all films for your research?”
“Yes…”
“Do you know all of this already?”
“What do you mean? Well, i know the actor. He then became the most popular rock star. His name is Ahmad Albar…”
“Wow, how old is he? Why do you know him?”
“Well, those old times..everyone knew him..”

Echa terdiam. Seperti berpikir. Lalu..
“Ajik…”
“Yes?”
“I just realise that you are so old…”

#ceritaechadiva

View on Path