Masakan

Seingat saya, waktu di rumah kontrakan dulu, satupun dari kami bisa memasak, sehingga itulah alasan kami menggaji ART, namanya Mbak Mien. Saya termasuk salah satu yang tak bisa masak. Hingga kini. Tidak iri dengan yang pinter masak? Ndaklah. Mereka yang pintar masak justru perlu kami, atau saya, yang tak bisa masak ini. Mereka tak bisa disebut pintar masak kalau kami tak merasakan masakannya dan menyebut mereka “masakanmu enak, kamu pintar masak, deh..”

Bener kan?
Masalahnya, saya sebenarnya juga ndak tahu gimana masakan yang enak itu. Yang penting makan aja. Kurang apa-apa, tinggal ditambah kecap atau sambal. Beres…

Lagipula, kalau semua pintar masak, apa jadinya dunia? Kayak sekarang, isu plagiat, semua mendadak pinter nulis. Isu korupsi, semua mendadak jadi suci. Bayangkan kalau semuanya ganteng, membosankan sekali, bukan? Untung saya manis. Dunia terasa lebih menyegarkan.

Sek, kembali ke masakan.
Saya masih ingat, selain masakan Mbak Min, ada satu lagi masakan lain. Selalu dibawakan salah satu teman saya yang kemarin inisialnya tidak bisa disebut. Bukan bung A, dia mah alim paripurna. Ini satunya lagi.

Sering dia datang dengan berbunga-bunga, sambil berteriak, “aku bawa masakan…”
Lalu salah satu dari kami biasanya memperjelas, “masakan apa Nu?” (Eh, katanya ndak boleh nyebut inisial ya? Kata Nu jangan dibaca ya). Dia biasanya akan menjawab, “masakan jepang dong…”

Masakan yang dia bawa bervariasi. Seringnya jepang. Favoritnya. Kadang perancis, hongkong, atau ya…kadang masakan lokal, walau nanti ketahuan itu ternyata masakan thailand. Kadang dia cuman datang meletakkan masakannya, sambil berpesan, “ojo saiki yo, engko ae enteni aku sik…”

Dan akhirnya nanti semua “makan” bersama. Tapi kadang lebih sering dia makan sendiri semua masakannya.

Yang paling parah, pernah dia datang sambil teriak, “masakan baru…. masakan hewan..”.

Asuuuuu….

#ceritapuasa

View on Path