Kopi apa Babi?

Sampai kini ada satu misteri yang tak terpecahkan bagi kami, atau setidaknya saya, hingga saat ini.

Komplek perumahan tempat kami mengontrak rumah, seperti halnya perumahan lain di jagad endonesa, rutin disambangi pedagang keliling. Apalagi saat bulan puasa.

Nah, waktu itu ada satu pedagang keliling yang naik motor namun tak jelas meneriakkan apa. Biasanya dia sudah meng-gas motornya sejak di ujung kompleks lalu saat belok, meneriakkan dagangannya. Rumah kontrakan kami tepat di bagian belokan. Sehingga pasti kebagian teriakan kencang itu.

Waktu itu ada perdebatan, apakah pedagang itu berteriak “babi” ataukah “kopi”.
Inj dua produk yang berbeda sekali.

Kalau kopi, kenapa dia tak pernah berhenti? Mosok hanya teriak “kopiiiii…” terus nge-gas dan berlari, belok blok lain, teriak lagi..”kopiii..”. Jual kopi kok lari-lari..

Kalau babi, kenapa juga dia tak berhenti? Jangan-jangan malah lagi memaki..”babiiii..”
Terus lari. Kalau ini, kurang ajar sekali dia. Kok beraninya teriak “babi” di depan rumah kami.
Babi itu untuk dimakan, bukan bahan memaki.
Pernah satu ketika kami berniat nongkrong depan rumah. Memastikan itu “kopi” apa “babi”.

Tapi sungguh sayang, bangun pagi bukanlah hal yang mudah. Yang ada, kami terbangun karena si pedagang bermotor itu meneriakkan “kopiiiii…” atau “babiiii…”, lalu dia pergi. Hinggi kini, masih jadi misteri…

Sial…

#ceritapuasa

View on Path