Rumah Singgah 2: the Sum of All Fears

Teman-teman sekontrakan saya sebetulnya ganteng-ganteng semua. Cuman saya doang yang manis. Sejak dulu, jadi mau apa lagi? Terima nasib saja, ndak perlu resah.

Tapi, diantara yang ganteng-ganteng itu ada satu yang menjadi idola bangsa. Gantengnya waktu itu ngalah-ngalahin Reza Rahardian. Orangnya pinter pula. Pinter komputer. Kalau ada masalah dengan komputer tinggal panggil dia. Seringkali malah komputernya jalan sendiri begitu mendengar teman saya ini dipanggil. Saking takutnya.

Cara bertuturnya halus dan lembut. Tak pernah ngomong kasar. Pakaian selalu rapi dan harum. Dan yang paling paripurna, alim dan taat beragama. Tri sandhya setiap hari. Benar-benar high quality jomblo.

Bayangkan. Jangan bandingkan dengan saya deh. Jauh.

Teman-teman saya yang singgah di rumah, sering melihat sosoknya hanya sekelebatan. Tentu sambil menunggu pacar mereka menjemput. Atau menunggu pacar mereka yang lain menjemput. Tapi karena prinsip rumput tetangga lebih hijau, sekelabatan itu cukup membuat teman-teman saya, yang kabarnya dapat membuat para pria dari jurusan lain itu klepek-klepek, bertanya-tanya. “Siapa mahluk ganteng itu?”

Awalnya, saya ingin menjaga harkat martabat dan kehormatan teman saya, tapi akhirnya saya terpaksa membocorkan informasi itu. Sebut saja namanya Bung A.

Dan terjadilah itu. Setiap kali teman-teman saya datang, dengan santai mereka memmanggil-manggil, “permisi Igak, bung A ada?”

Atau “bung A, keluar dong…”

Karena kamar saya sebelahan dengan kamar bung A, kadang teman-teman saya sengaja memuji-muji bung A dengan suara keras. Bahkan menurut kabar dari orang yang tdak bisa disebutkan ukuran sepatunya, kadang teman-teman saya datang tengah malam sambil menyebut nama Bung A… hiiiii….

Bung A, perjaka tingting, alim dan suci, lalu digoda-goda teman-teman saya secara brutal. Saya yakin, saat teman-teman saya memanggil-manggil namanya, si bung A ini sibuj menguatkan diri. Valak, boneka annabel, chucky, sampe nenek gayung, kalah menakutkan dibanding panggilan teman-teman saya.

Bung A mendapat terpaaan seperti ini tentu seperti menjalani salah satu fase hidup paling mengerikan. The sum of all fears.

Sungguh.

#ceritapuasa

View on Path