Rumah Singgah (1)

Dulu, semasa di rumah kontrakan, kalau pas ngabuburit, rumah sering jadi rumah singgah. Bukan, bukan rumah singgah buat anak jalanan, saya belum sedahsyat itu. Ini rumah singgah kawan-kawan saya. Jadi setelah kuliah, mampir dulu di rumah. Terus nelpon orangtua, “mah, aku nanti mau tarawih dan buka bersama di kampus. Kumpul dulu di rumah igak”

Setelah itu mereka dijemput pacar mereka, yang ndak berani jemput di rumah. Atau pacar yang lain, selain pacar aslinya. Ya mereka beneran setelah itu buka bersama di kampus atau mall, terus tarawih. Tapi ya itu, “singgah” dulu di rumah kontrakan kami.

Ada juga yang melarikan diri dari pacar pilihan orangtua, atau fans yang selalu menyatroni rumah mereka. Bervariasi sekali alasan singgahnya.

Kerennya istilah sekarang ya, meeting point.

Kadang, kalau mereka sampe malam, bilangnya belajar bersama di rumah saya. Duh, istilahnya. Belajar bersama. Terakhir kali saya pake istilah itu waktu SD.

Tapi kok ya para orangtua kawan-kawan saya percaya ya. Mungkin dalam bayangan mereka saya itu pemuda muslim harapan bangsa yang selalu tarawih, dan buka bersama kawan-kawan, dan…yang paling penting, pintar dan berkepribadian adiluhung.

Buset dah.

Tapi begitu, kawan-kawan serumah saya ya tetap jomblo. Hanya bisa bertanya penuh harapan ke saya, “loh mereka cuman mampir bentar doang? Ndak kenalan sama kita gitu?”

#ceritapuasa

View on Path