Telepon Rumah

Gara-gara nulis soal rumah kontrakan, semua ingatan tiba-tiba bermekaran. Salah satunya soal telepon rumah.

Iya, jaman itu belum ditemukan telepon genggam. Setidaknya di rumah kontrakan saya. Adanya telepon rumah. Sungguh, saat itu PT Telkom mungkin berbahagia punya konsumen mahasiswa seperti kami. Pada hobi telepon pulang ke Bali. Apalagi yang punya pacar. Telpon bisa setiap malam. Yang belum punya pacar, ya pura-pura telpon teman ngaku pacar.

Apalagi kalau tiba-tiba telepon sambil bisik-bisik. Sudah pasti pacar. Minimal cemceman. Yang lain mendadak sibuk mondar-mandir. Teriak-teriak. Sibuk lah. Sibuk mengganggu.

Lalu tiap tagihan datang, ngeprint catatan telpon. Itu bisa berlembar-lembar. Kalau dijilid bisa setebal skripsi. Disitulah “pertempuran” terjadi. Tak semua ingat nomer yang ditelepon. Tapi semua selalu happy ending. Tagihan dibagi proporsional. Sesuai menit. Iya, masing2 dengan kesadaran sendiri mencatat berapa menit mereka menelpon utk nomer lokal.

Lalu saat bulan puasa tiba, sering datang teman-teman tersayang numpang menelpon. Pamit dari rumah mungkin bilangnya tarawih. Taunya njelepok di depan telepon kami. Nelpon berjam-jam. Entah siapa yang ditelpon. Mesra pulak suaranya. Merayu gombal mukiyo. Jika ada operator, mungkin operatornya jatuh tertidur saking lamanya.

Lha iki sing duwe telpon sopo sakjane?
Kadang malah, pas sahur sudah standby di depan telepon. Sampe kami yang tak puasa, saat bangun pagi, terkaget-kaget mendapati teman satu ini sudah posisi uenak dengan telepon di telinga. Buset…. ini telepon bisa leleh terbakar.

Lah akhirnya teman satu ini lebih sering terkena tagihan telepon paling banyak. Padahal tidak ikut ngontrak. Ah, dia memang pantas dijuluki bapak telkom mulyosari.

Sudahlah, jangan suruh saya menyebut inisialnya. Benu itu bukan inisial. Itu nama.

#ceritapuasa – with Wisnu

View on Path