Bruce

Sore ini sibuk luar biasa. Ada sport after school program, ada juga fieldtrip anak-anak senior. Tiga bis sekolah pada berangkat semua, belum lagi anak-anak sekolah lain berdatangan karena ada pertandingan di lapangan sekolah. Di tengah kesibukan itu, sementara saya menyetop jalan untuk memberikan jalan pada bis sekolah, tiba-tiba saya mendengar suara, “Bruce..”

Saya menoleh. Ada nenek-nenek sambil membawa kursi piknik melihat ke arah saya. Saya celingukan, memastikan tidak ada orang lain.

“Did you call me, Maam?”
“Yes, Bruce. Do you know where the hockey game is?”
“Yes Maam, i am not Bruce. But i can show you the place”
“Oh thank God. I’ve been here for half an hour, but i could not find it”

Dia lalu saya antar ke lapangan. Kondisi memang ramai. Mobil bersliweran, anak-anak sekolah motong jalan seenaknya, merasa punya nyawa dua. Sambil berjalan ke lapangan, si nenek-nenek bercerita bahwa dia diminta cucunya menonton program ini. Dan banyak lagi. Saya tak begitu jelas mendengarnya. Logat aussie nenek ini kental sekali. Setelah sampai di lokasi, dia berkata, “thank you Bruce. Mrs ****e told me if i need to know anything about this game, i can ask you”

“Thank you Maam, but again, I am not Bruce”
Saya tahu Bruce yang dimaksud adalah guru olahraga baru di sekolah ini. Masih muda, keturunan Asia, suka naik mobil sport, tapi setahu saya namanya Bryce. Atau mungkin Bruce. Entahlah.

“Good on ya Bruce, i will see you again sometimes..”
“You too Maam, my name is Satrya. Not Bruce”
“That is allright, Bruce. See ya..”

Mbah, saya bukan Bruce…..

Kalau saya Bruce, nanti malam saya Batman..

#baladatrafficwarden yang mungkin nanti malam jadi Batman…

View on Path