Kopi apa Babi? Sampai kini ada satu misteri yang tak terpecahkan bagi kami, atau setidaknya saya, hingga saat ini. Komplek perumahan tempat kami mengontrak rumah, seperti halnya perumahan lain di jagad endonesa, rutin disambangi pedagang keliling. Apalagi saat bulan puasa. Nah, waktu itu ada satu pedagang keliling yang naik motor namun tak jelas meneriakkan apa. Biasanya dia sudah meng-gas motornya sejak di ujung kompleks lalu saat belok, meneriakkan dagangannya. Rumah kontrakan kami tepat di bagian belokan. Sehingga pasti kebagian teriakan kencang itu. Waktu itu ada perdebatan, apakah pedagang itu berteriak “babi” ataukah “kopi”. Inj dua produk yang berbeda sekali. Kalau … Lanjutkan membaca

Rumah Singgah 2: the Sum of All Fears Teman-teman sekontrakan saya sebetulnya ganteng-ganteng semua. Cuman saya doang yang manis. Sejak dulu, jadi mau apa lagi? Terima nasib saja, ndak perlu resah. Tapi, diantara yang ganteng-ganteng itu ada satu yang menjadi idola bangsa. Gantengnya waktu itu ngalah-ngalahin Reza Rahardian. Orangnya pinter pula. Pinter komputer. Kalau ada masalah dengan komputer tinggal panggil dia. Seringkali malah komputernya jalan sendiri begitu mendengar teman saya ini dipanggil. Saking takutnya. Cara bertuturnya halus dan lembut. Tak pernah ngomong kasar. Pakaian selalu rapi dan harum. Dan yang paling paripurna, alim dan taat beragama. Tri sandhya setiap hari. … Lanjutkan membaca

Rumah Singgah (1) Dulu, semasa di rumah kontrakan, kalau pas ngabuburit, rumah sering jadi rumah singgah. Bukan, bukan rumah singgah buat anak jalanan, saya belum sedahsyat itu. Ini rumah singgah kawan-kawan saya. Jadi setelah kuliah, mampir dulu di rumah. Terus nelpon orangtua, “mah, aku nanti mau tarawih dan buka bersama di kampus. Kumpul dulu di rumah igak” Setelah itu mereka dijemput pacar mereka, yang ndak berani jemput di rumah. Atau pacar yang lain, selain pacar aslinya. Ya mereka beneran setelah itu buka bersama di kampus atau mall, terus tarawih. Tapi ya itu, “singgah” dulu di rumah kontrakan kami. Ada juga … Lanjutkan membaca

Telepon Rumah Gara-gara nulis soal rumah kontrakan, semua ingatan tiba-tiba bermekaran. Salah satunya soal telepon rumah. Iya, jaman itu belum ditemukan telepon genggam. Setidaknya di rumah kontrakan saya. Adanya telepon rumah. Sungguh, saat itu PT Telkom mungkin berbahagia punya konsumen mahasiswa seperti kami. Pada hobi telepon pulang ke Bali. Apalagi yang punya pacar. Telpon bisa setiap malam. Yang belum punya pacar, ya pura-pura telpon teman ngaku pacar. Apalagi kalau tiba-tiba telepon sambil bisik-bisik. Sudah pasti pacar. Minimal cemceman. Yang lain mendadak sibuk mondar-mandir. Teriak-teriak. Sibuk lah. Sibuk mengganggu. Lalu tiap tagihan datang, ngeprint catatan telpon. Itu bisa berlembar-lembar. Kalau dijilid … Lanjutkan membaca

Bruce Sore ini sibuk luar biasa. Ada sport after school program, ada juga fieldtrip anak-anak senior. Tiga bis sekolah pada berangkat semua, belum lagi anak-anak sekolah lain berdatangan karena ada pertandingan di lapangan sekolah. Di tengah kesibukan itu, sementara saya menyetop jalan untuk memberikan jalan pada bis sekolah, tiba-tiba saya mendengar suara, “Bruce..” Saya menoleh. Ada nenek-nenek sambil membawa kursi piknik melihat ke arah saya. Saya celingukan, memastikan tidak ada orang lain. “Did you call me, Maam?” “Yes, Bruce. Do you know where the hockey game is?” “Yes Maam, i am not Bruce. But i can show you the place” … Lanjutkan membaca

Saat paling mengharukan sore ini adalah saat membantu emak-emak memarkirkan mobil segede gabannya. Tiga puluhan detik saya teriak-teriak tapi si emak tetap tak bergerak memundurkan mobilnya. Karena penasaran saya bergegas ke arah pengemudi dan melihat muka si emak sudah pasrah seperti serutan es. Melihat saya datang, dia berkata, “I am sorry. I tried to do what you say, but i dont understand your command” “Oh really? I dont know that” “Yeah, you said ‘terus’, ‘munnur’ sort of things. I am not sure…” “Did i say that? Oooh, sorry…” Dalam semangat, saya ternyata berteriak “terus” dan “mundur”. Kasihan si emak. Lebih … Lanjutkan membaca