Nama

Nama selalu dan tetap jadi masalah saya. Shift sore, tugas saya adalah memanggil nama murid yang dijemput orangtuanya. Jadi, kalau ada yang lihat saya petantang petenteng bawa TOA, bukan, saya bukan mau demo. Saya cuman mau manggilin murid. Banyak ya, bawa pentungan merah jambu mirip light saber plus TOA.

Term 1 saya berhasil dengan susah payah menghafal dan melafal nama murid yang susah-susah gampang. Charlotte yang harus dibaca syarlot, raquel yang dibaca rakel, jean marie yang dibaca jhan mari, tentu semua dengan akses ala-ala syintah lawrah.

Ohya, saya paham beda satu huruf urusannya jadi panjang. Ada tiga Amelie. Amelie W, Amelie L, Amelie C, plus ada Amelia, ada Emilie. Ada tiga Sophie: C, W, O plus dua Sophia: H dan L. Ada Louie, Louise, Louisine. Lupa hurup belakang yang datang tiga orang. Heran deh, bikin nama mbok ya kreatif, kok pasaran. Coba Sophia diganti Sopik gitu. Kan beda.

Dan saya berhasil menghafal semua itu dan meneriakkan nama mereka saat melihat mobil bapak atau ibunya. Untuk ini saya bangga benar. Walau kadang-kadang, saya kelepasan menyebut Sophie W. We. Bukan Sophie Double Yu. Kesel yo, inggrisan terus. Lidah kusut.

Persoalannya, hingga kini, sudah setahun lebih, eyang2 di administrasi sampe sekarang gagal menyebut nama saya dengan benar. Saat masuk kantor hendak setor kartu absen, saya disapa:

“Good afternoon, Satira… how is going?”
“Good afternoon *******, i am good. Thank you for asking. How are you going?”
“I am very well Sataraya. You want to drop your card off?”
“Yes, at ****’s desk, right?”
“Yes sure”
“Thank you *******, see you in the next two weeks”
“See you again Saraya.. happy holiday”

Saya cuman senyum. Dalam dua menit, nama
saya sudah berganti tiga kali. Satira, Sataraya, Saraya.

Mungkin saya harus ganti nama yang lebih gampang dilafal orang sini.

Misalnua John Wibawa. Richard Wibawa.

Atau, yang mirip-mirip Satrya. Sarah.

Sarah Wibawa. Kok rodok janggal.
Atau Selena?

Ah sudahlah….

#baladatrafficwarden

View on Path