Percakapan

Berdiri satu setengah jam setiap pagi kadang membuat saya merasa sudah menjadi patung polisi. Saya curiga, mamah-mamah muda yang suka mokong itu juga mengira saya patung polisi, atau lebih parah, tiang listrik. Masak setiap disetop, jawabannya standar: “i didn’t see you there”

Padahal saya beda dibanding patung polisi. Saya lebih berisi. Pipi dan perut. Saya juga tersenyum. Bayangkan kalau tiba-tiba patung polisi juga tersenyum mendadak. Semburat semua yang melihat.

Selain senyum kadang saya juga ngobrol singkat. Terutama dengan pengguna jalan yang rutin tiap pagi. Percakapan tentu terbatas sapaan selamat pagi, apa kabar dan basa-basi sejenisnya. Kadang, saat itulah saya merasa bosan. Tiap pagi ketemu dengan sapaan yang sama dan jawaban yang sama. Perlu tema lain.

Susahnya, saya tak bisa bergaya ala Indonesia dalam menyapa. Atau ala suroboyoan, dengan menyapa “leh…ketemu maneh, jek durung kawin tha?” Bisa modar saya dilempar sepeda. Atau, “awakmu kok makin membesar gitu? Abis makan ban bis kota?”

Susah. Lah paling banter bicara soal cuaca. Itupun kadang jadi garing. “It will be very hot today..” dijawab, “yeah, its summer..”
Kalau musim dingin, jadi, “it will be very cold today,”. Dijawab, “yeah, its winter”

Garing banget. Perlu peristiwa langka utk dapat membuka percakapan. Tahun lalu, peristiwa pembajakan bis di depan sekolah mampu membuat tema menarik selama dua minggu.

Mungkin sesekali perlu ada UFO atau Alien mendarat di depan sekolah…

#baladatrafficwarden

View on Path