What Are You Doing Here?

Orang sedang sibuk bertemu dengan orang sibuk bisa menimbulkan error. Bumi bisa diasumikan tidak hanya datar lagi, tapi segitiga. Begitu juga saat sedang anter pizza kemarin. Bumi perth sedang panas-panasnya. 40 derajad, dan pemesan pizza bejibun.

Saya kebetulan harus mengantar ke rumah sakit. Saya sebetulnya sebel kalau ada order dari tempat ini dengan alasan sederhana. Pertama, parkir sulit. Kedua, rumah sakit ini segede gambreng. Tiap lantai dan ruangan, lift-nya beda. Salah masuk lift bisa kesasar, musti balik lagi turun ke lantai dasar. Sebel. Ketiga, saya sering digoda orang-orang sana kalau lagi anter pizza. Bukan disuit-suitin sih. Atau digoda “duuuh gantengnya pengantar pizza ini”, atau semacam penggemar justin mbleber yang histeris smabil terika..”ohhh my God…” terus ambruk semaput. Bukan. Tapi semacam sapaan “Oh, pizza-nya buat aku ya?” atau “Can I have free pizza?”. Godaan semacam itu ya bentuk keramahan sekaligus kecemburuan. Tapi saya yakin, pasti ada juga yang mbatin, “duh manisnya, pengantar pizza ini. Andaikan semua pengantar pizza seperti mas ini..”. Saya tahu. Yakin. Pasti ada yang mbatin seperti itu. Tapi saya kan ndak bisa melarang orang.. jadi, ya sudahlah, langkah tegap diayunkan sambil nenteng tas pizza. Masuk lift, terus baru sadar liftnya salah, keluar sambil misuh…cuk..

Pun malam itu. Saya dengan T-shit dan topi seragam plus tas penghangat pizza segede gambreng sudang nongkrong di depan ruangan yang bertuliskan dilarang masuk. Saya menelpon pemesan, tapi ndak diangkat. Padahal saya maish harus mengantar pizza ke tiga alamat lain lagi. Saya lihat kesibukan luar biasa di dalam ruangan. Ya sudah, telpon tiga kali ndak diangkat, saya niatkan diri untuk masuk. Baru mau buka pintu, tiba-tiba saja pintu terbuka. Seorang perawat keluar. Kami saling berhadapan. Itu kalau sinetron pasti musiknya jengjengjeng lalu zzom in zoom out.

Pertanyaan dari perawat itu tak saya duga.
“What are you doing here?”
Saya, pengantar pizza yang memakai kaos, topi dengan tulisan pizza, dan membawa tas segede gaban, plus semerbak aroma udang dari pizza, terdiam. Ap aku kelihatan seperti mau mbetulin pipa tha?. Lalu saya menjawab dengan tidak yakin.
“It seems, I am delivering the pizza?”
Si perawat diam. Lalu bertanya lagi..
“Why?”
Saya tambah bingung. Sek sek…ini ndak pernah ada dalam protap sebagai pengantar pizza.
“Why? Mmmm..because we have an order from someone here?”
Saya jadi tak yakin dengan jawaban saya sendiri.
Si perawat terdiam. Lalu pergi. Sesaat saya pusing. Saya coba telpon lagi. Kali ini dijawab. Si pemesan datang. Dokter. Sambil minta maaf karena tadi dia sibuk dengan pasien. Saya hanya tersenyum. Barangkali itu perawat yang memang sedang sibuk. Makanya ada kampanye dari asosiasi perawat di sini untuk menambah jumlah perawat agar rasio perawat dan pasien jadi ideal.

Mungkin lain kali saya perlu bawa poster segede gaban. “I am here because I am delivering Pizza. (But, maybe, because I am so cute as well)”

#baladapizzadriver

View on Path