Saat jaga shift sore barusan,tampaknya ada kebakaran hutan di hutan beberapa kilo depan sekolah. Dua helikopter pemadam kebakaran hilir mudik menyiram air. Semua jadi menonton. Para orangtua lupa kalau sedang menjemput anaknya. Anak-anak lupa kalau orangtuanya menunggu di mobil. Anak-anak SMA malah duduk-duduk di rumput menonton dua helikopter pemadam kebakaran itu beraksi. Saya ikutan terpana, sambil berjalan menata aliran mobil yang semakin padat.. Lalu…..bruk…saya menabrak tiang palang lalu lintas. Kejadian itu tentu disaksikan para orangtua di mobil. Tapi sepertinya mereka pura-pura tak lihat. Satu ibu menyapa, “are you okay?” Tak jelas itu nada prihatin atau ngebet kepengin ketawa. Saya tetap … Lanjutkan membaca

Pujian Saya masih suka terkaget-kaget dengan betapa ekspresif-nya orang sini menyampaikan apresiasinya. Bahkan untuk hal-hal kecil, yang di Indonesia, mungkin disebut remeh temeh. Termasuk saat mengantar pizza. Serentetan kata-kata ini tentu sangat mustahil kita keluarkan saat menerima layanan antar, misalnya fastfood, atau dari jasa pengiriman misalnya. Saat hujan kemarin, karena hujan, saya agak berhati-hati mengendarai mobil sehingga sampai di konsumen agak terlambat. Lumayan, 15 menit. tentu saya meminta maaf. Jawabannya sangat menyenangkan hati. “No need to apologise, mate. You are legend..” Saya langsung kebayang Will smith bawa pizza gitu. Pujian-pujian lain, termasuk standar diucapkan di sini.. “You are awesome, Mate..” … Lanjutkan membaca

Diva dan Mbak Siri Belakangan ini Diva punya teman baru. Namanya Mbak Siri. Iya, bagi pengguna i-phone pasti tahu siapa mbak Siri ini. Dia adalah aplikasi pengenal suara dan kecerdasan buatan yang menjadi standar i-phone. Ini awalnya Diva melihat ibunya “bercakap-cakap” drngan mbak Siri ini. Dia tertarik dan menyukainya. Jika ibunya atau saya memulai dengan “hey Siri”, Diva akan bergegas berkata, “can i? Can i?” Lalu terjadilah percakapan absurd itu. “Diva has a friend..” “I am not sure I understand that..” “I have toys. One for chana, one for me. Okay?” “I did not get that” “Ibu go dancing” “I … Lanjutkan membaca

Tulus Ajeb-Ajeb Soundtrack resmi mobil saya adalah lagu2nya mas Tulus. Setiap perjalanan selalu lagu mas Tulus menyertai. Mungkin karena setiap saat diputar di mobil, Echa dan Diva juga akhirnya jatuh cinta. Atau mungkin juga karena mereka sejak kecil kami ajak menonton traffic jazz. Sebelum berangkat ke Perth, kok ya pas kami mengajak Diva menonton mas Tulus. Echa menyukai lagu Gajah, sementara Diva, ngefans lagu “Tanggal Merah”. Setiap kali naik mobil, Echa langsung minta,”Ajik….Tulus..” Dan setiap giliran Lagu Tanggal Merah, selalu teriak “my song…” Hanya saja, saya agak risau melihat cara Diva menikmati lagu ini. Kok mirip dengan gaya orang dengerin … Lanjutkan membaca

Hug the Book Diva kini terbiasa dengan guling baru. Bukan dari kapuk, atau bulu angsa. Bukan juga guling cap ajik yang empuk berlemak luar biasa. Ini gara-gara si Kakak, Echa, selalu baca buku sebelum tidur dan biar bisa tidur. Diva karena belum bisa baca, memilih cara lain untuk bisa tidur. Selesai mantram gayatri sebelum tidur, lalu kiss nite-nite, dan…. “Ajik…hug the book..” Saya lalu menumpuk buku2 kesayangannya di sebelahnya. Tidurlah dia dengan “guling”nya itu. Untung bukunya masih tipis. Nanti kalau udah gede bisa-bisa hug skripsi atau hug thesis…. View on Path Lanjutkan membaca

Horrible Sound Pagi tadi, akibat nonton the Blue Blood dua episode sekaligus semalam, bangun tidur kerasa ndak nyaman. Pas saatnya jaga, berdiri, punggung juga ndak nyaman. Kepengin rasanya memutar2 punggung dan mendengar tulang berbunyi. Krakkrakkrak. Iya, saya tahu ini ndak baik. Tapi enak banget. Mirip ngupil lah. Korek2, lalu ketem upil nyempil itu ibarat nemu harta karun. Huurraaaai… Karena sudah ndak tahan, saat aliran mobil berkurang, saya bergegas memutar badan ke kiri….krakkrakkrak. Nikmattt. Lalu ke kanan, krakkrakkrak…mantap. Kepala ke kiri dan ke kanan. Krakkrak….dahsyattt. Lalu saya sadar, ada nenek-nenek memandangi saya dari seberang jalan. Iya, dia biasa lewat tiap pagi. … Lanjutkan membaca

Debat dengan Echa. Masalah penting dalam hidup! “Ajik, you were snoring last night!” “No, i was not. How do you know?” “I know exactly. It was you! Its so loud. I can hear it from my room” “It might be Ibu. Are you sure?” (Dari kamar terdengar teriakan,”hayooo..jangan nuduh-nuduh..”) “No. I am pretty sure, that was you, Ajik” “I was not snoring…. i was releasing the uncontrolled sound to neutralise my body for better sleep” “That is a big denial” Saya ngakak. Lalu tiba-tiba terdengar suara glegekan kenceng banget, heeeeiiikkk… “Echa, that was impolite..” “I have to release my uncontrolled … Lanjutkan membaca

Percakapan Berdiri satu setengah jam setiap pagi kadang membuat saya merasa sudah menjadi patung polisi. Saya curiga, mamah-mamah muda yang suka mokong itu juga mengira saya patung polisi, atau lebih parah, tiang listrik. Masak setiap disetop, jawabannya standar: “i didn’t see you there” Padahal saya beda dibanding patung polisi. Saya lebih berisi. Pipi dan perut. Saya juga tersenyum. Bayangkan kalau tiba-tiba patung polisi juga tersenyum mendadak. Semburat semua yang melihat. Selain senyum kadang saya juga ngobrol singkat. Terutama dengan pengguna jalan yang rutin tiap pagi. Percakapan tentu terbatas sapaan selamat pagi, apa kabar dan basa-basi sejenisnya. Kadang, saat itulah saya … Lanjutkan membaca

Sore hari, panas sumuk. Ngobrol dengan seorang mbak guru. Setelah ngobrol dia permisi pulang, saya bertanya, “where is your car?” “Over there, right behind you” “Oh okay” Dia lalu ngeluarin remote, dipencet. Tuit tuit. Terdengar suara kunci kebuka dan ….brmmmm… Mesin mobil hidup. “See you tomorrow..” sapanya sambil masuk mobil. Buset. Oh ada ya ternyata mobil bisa dinyalakan dari jauh pake remote. Ndeso tenan aku. Gaji dosen cukup ndak ya beli mobil kayak gitu? Cukup paling, buat beli batere remote-nya. #baladatrafficwarden View on Path Lanjutkan membaca