Pee or Poo.. Tiba-tiba Diva berlari mendatangi saya. Wajahnya meringis. “Ajik, i want to pee..” Okay, semenjak dia lulus toilet trainingnya, dia selalu pipis di toilet, yang dilengkapi dengan toilet mini-nya itu. Saya lihat toilet tertutup. Ada istri saya di dalam. Menggedornya tak akan berguna. Saya paham rasanya saat “‘merenung” tiba-tiba digedor. Masak yang sudah setengah keluar dimasukkan lagi… *eh “Diva, pee di bathtub ya..” Diva mengangguk. Mukanya masih meringis. Gawat. Sudah kebelet ini. Saya lalu angkat dia ke bathtub. Bergegas dia mencopot celananya dan jongkok. Karena di bathtub, otomatis saya tunggu biar ndak kepleset. 10 detik kok ndak pipis. … Lanjutkan membaca

Big Shopping Pagi ini Diva bersikeras ikut saya belanja. Saya cuma mau beli paku di toko bangunan. Bagi Diva itu shopping. Ya sudah, saya ajak dia. Selesai beli paku, saat baru saja keluar toko, dia menarik tangan saya. “Ajik…” “Yes, Honey..” Diva menatap saya. Mukanya serius. “Ajik,This is not shopping..” “What do you mean? I buy something…” “No. This is not shopping…I want shopping. A big shopping” Matanya mulai berkaca-kaca. Siap-siap mewek. Ya sudah, saya juga kebetula mau beli stok air botol buat kerja. Berangkatlah kami ke coles, supermarket dekat rumah. Sampai di sana, girangnya Diva bukan kepalang. Semua ditunjuk … Lanjutkan membaca

Senyumku Cerahkan Duniamu Diantara sekian guru yang mewati saya setiap hari, hanya ada satu orang, iya satu, yang tidak pernah merespon senyum atau sapaan saya. Sama sekali. Kalau yang lain, minimal, membalas senyum. Atau menganggukkan kepala, atau hanya mengacungkan jari. Jari telunjuk atau jempol. Bukan jari tengah. Yang ekstrim adalah dari dalam mobil sambil dadah-dadah. Yang super baik adalah membuka jendela dan membalas ucapan saya. Seminggu ini, saya banyak menerima sapaan: Welcome back.. Saya berasa seperti Arnold Segarseger berkata “I’ll be back..” Nah, ibu guru satu ini, disapa, disenyumin, tetep aja mobilnya lempeng dengan muka lurus datar tanpa ekspresi. Mobilnya … Lanjutkan membaca

Begitu sampai rumah, istri cerita yang langsung bikin ngakak. Waktu belanja ke mall dekat rumah, istri saya dan Diva jalan melewati kantor pos. Kantor pos itu memang memakai pintu otomatis. Jadi siapapun yang lewat, pintu akan kebuka, walaupun belum tentu mau masuk ke kantor pos. Mirip jomblo lah, buka hatinya kalau ada yang mendekat padahal belum tentu mau nembak, wong kenal aja nggak. Terus, sewaktu Diva jalan melewati pintu itu, pintunya terbuka. Eh, spontan Diva berkata,”No, thank you..” View on Path Lanjutkan membaca

Dapet kabar dari istri bahwa Echa terpilih sebagai salah satu anak kelas 4 yang kelasnya digabung dengan kelas 5. Kabarnya ini kebijakan baru dari diknas perth, sebagai bentuk tantangan untuk anak kelas 4 yang terpilih untuk berkompetisi dengan kakak kelasnya. Di komunikasi Unair, ini bukan hal baru. Ada anak semester uzur yang terpilih secara otomatis untuk ikut kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi yang seharusnya ditujukan untuk mahasiswa baru, semester akil balik. Malah, sampai yang mahasiswa baru ini wisuda, sang kakak kelas tetap ikut PIK. Mungkin sampai akhir zaman. Bagi Echa, ikut kelasnya anak kelas 5 ini tantangan. Tapi bagi si mahasiswa … Lanjutkan membaca