Pancake Day

Pagi-pagi, saat sampai di lokasi, manager saya bilang,
“Its a pancake day, Satrya”
“Oh no…”
“Yeah, i know. You know what to do..”

Sekolah ini sering punya program menarik. Seperti costume day, science day, dan juga hari ini, pancake day. Memasak dan makan pancake di sekolah.

Hari-hari khusus seperti ini menjadi kesempatan para orangtua mokong untuk melanggar peraturan biar bisa parkir di areal parkir utk staf. Mereka mempergunakan beragam alasan. Dan seringkali alasan itu alasan yang saya tidak bisa dan tidak boleh menolak: sakit atau bawa barang berat.

“Its a pancake day, but my daughter cant walk. She had sport accident yesterday…”

Jika dipikir alasan itu ndak ada hubungannya sama sekali. Mirip dengan kalimat, “saya jomblo, tapi inceran saya menikah dengan orang lain”

Itu nasib. Apes.
Tapi ya begitu, aturan dari manager saya, harus percaya sama orangtua yang kasih alasan anaknya sakit atau bawa barang berat.

Dan hari ini mendadak ada enam anak yang sakit. Padahal, kalau saya lihat mukanya ndak ada kesan sakit. Dan, ada empat orangtua yang bilang bawa barang berat untuk pancake day. Ya Tuhan, seberat apa sih wajan kecil buat pancake?

Yang membuat hari saya sempurna adalah orangtua satu inj:

“Tante, ndak boleh lewat sini. Kan ada tanda larangannya”
“But its pancake day..”
“Iya tahu tante, aturannya tetap jalan. Tante parkir di areal depan aja seperti yang lainnya”
“But, its pancake day..” (nadanya mulai meninggi)

Saya mulai melihat muka ibu ini seperti pancake. Pengin tak potong-potong dan tak makan…

“Iya Tante, tante ndak boleh lewat dan parkir sini…kalau mau tante bisa parkir di bawah pohon seperti mbil itu”
“Its a pancake day, it should be okay”

Saya menghela nafas. Sungguh pancake itu ndak baik buat kesehatan. Bikin emosi, darah tinggi dan rasa kepengin misuh berkepanjangan….

Pancake…pancake..lambemu tak gawe pancake..

#baladatrafficwarden

View on Path