Pee or Poo..

Tiba-tiba Diva berlari mendatangi saya. Wajahnya meringis.

“Ajik, i want to pee..”
Okay, semenjak dia lulus toilet trainingnya, dia selalu pipis di toilet, yang dilengkapi dengan toilet mini-nya itu. Saya lihat toilet tertutup. Ada istri saya di dalam. Menggedornya tak akan berguna. Saya paham rasanya saat “‘merenung” tiba-tiba digedor. Masak yang sudah setengah keluar dimasukkan lagi… *eh

“Diva, pee di bathtub ya..”
Diva mengangguk. Mukanya masih meringis. Gawat. Sudah kebelet ini.
Saya lalu angkat dia ke bathtub. Bergegas dia mencopot celananya dan jongkok.

Karena di bathtub, otomatis saya tunggu biar ndak kepleset. 10 detik kok ndak pipis. Tiba-tiba Diva memandang saya lagi. Wajahnya masih meringis.

“Ajik, i want to poo..”

Waduh. Ini gawat.
“Are you sure?”
Dia mengangguk.
“Do you want to pee or poo?”
Sejenak dia terdiam. Lalu lirih berkata “pee”
“Pee or poo?”
“Poo..”
“Poo or pee..”
“Pee…”
Saya menghela nafas. Ini bakal lama.
“Diva, pee or poo?”
“Poo..”
“Poo or pee”
“Poo..”
Okay, konsisten. Saya langsung angkat dia dan…terpaksa gedor toilet.

“Saaaay, diva mau poo…cepetan”
Gerudakgeruduk….untung sudah selesai.

Diva bergegas menaiki toilet mini-nya. Dan memulai ritualnya. Di tenga-tengah…dia berkata:
“Ajik, Diva pee. And poo too”

Iyah…untuk mencapai mimpi2 besar, harus mencapai mimpi-mimpi kecil dulu Diva…. kalau mau poo, mesti pee dulu….

View on Path