Cukur rambut bagi saya bukan lagi masalah besar sekarang. Tinggal datang ke langganan di mall dekat rumah. Sangat mekanis, datang, masukin duit, ambil antrian, duduk nunggu dipanggil.

Saya pernah bahas itu di sini:
Cukur Rambut yang Tak Bikin Semrawut | My Blog, My View
https://satryawibawa.com/2016/01/08/cukur-rambut-yang-tak-bikin-semrawut/

Pagi ini saya datang lagi. Cukup ramai dan ada tiga perempuan tukang cukur yang standby. Rata-rata bermuka asia timur. Saya duduk dan seperti biasa, sebelum ditanya, saya langsung bilang: could you please make it short and tidy..

Dia mengangguk. Mulailah proses mencukurnya. Biasanya cepat. Tapi kali inj tiba-tiba-tiba di tengah proses cukur, dia memanggil temannnya:

“Tangtungtangtungtangjes?”

Temannya mendatangi dia.

“Tungtangtungtungjespong.”
“Tangtungtingtingtongjesduk”

Saya tak tahu apa yang terjadi. Saya ndak paham apa yang mereka bicarakan.

Lalu si tukang cukur saya berhenti mencukur, dan mengambil cermin dan menunjukkan bagian pinggir yang sudah dia cukur.

“Are you okay with this?”
Saya ndak pake kacamata, dan saya tak terlalu perduli dengan apa yang terjadi. Yang penting pendek. Cukup.

“Yeah, i am good with that”

Lalu dia bertanya lagi pada temannya.

“Tangtungtangjrengplasdukder”
“Tangprokprokprokjekpong”

Temannya kini bertanya ke saya.

“Are you sure with that? Thats not too short?”

Saya terdiam. Tampaknya saya paham apa yang mereka bicarakan.
Saya jawab saja “I am ok. Dont worry..”

“Tangtungtangjekpong”
“Tangjesjesjesprok”

Temannya pergi, tukang cukur saya melanjutkan pekerjaannya sampai selesai.

Mbak…mbak… aku ancen mulai butak kok. Ojo wedhi. Aku sadar kok, aku mulai mirip Bruce Willis. Minimal Jason Statham lah…

#baladamahasiswaestiga
#butaktandatakgondrong

View on Path