Tag

, , , , ,

barbiegak

REAL: Review Asal

Ini film permintaan Echa dan Diva. Serius. Saya ndak bohong. Potong leher anda kalau saya bohong! Ini karena saat suatu sore, Diva tiba-tiba datang dengan muka melas sambil berkata, “Ajik, I want bobby…I want to watch bobby…”. Iyah, Diva maksudnya Barbie. Maka jadilah kami nonton Barbie streamingan. Echa yang gesit mencarikan film Barbie terbaru. Serius, ini yang terjadi. Bukan saya yang sengaja cari film barbie, lalu menontonnya sambil minum bir dan pie susu.

Tapi Barbie ini selalu menarik hati. Eh, maksudnya menarik buat dikaji. Barbie menjadi bentuk perlawanan terhadap dominasi laki-laki. Barbie menjadi symbol idola anak-anak perempuan. Walau mungkin dikecam karena memunculkan stereotype perempuan cantik itu ‘langsing, rambut pirang, kulit putih”, ada unsur-unsur yang membuat dia dijadikan ikon perlawanan. Terutama terhadap dominasi pria.  Sosok pria dalam film-film barbie selalu dikesankan tak lagi perkasa. Cenderung lemah dan menjadi antithesis dari maskulinitas pria. Film Barbie adalah senjakala pria perkasa. Karakter antagonis dalam film-film Barbie pun sebagian besar adalah sosok pria atau sosok yang menyerupai pria.

Sek, saya kok menyebut “film-film”, bukan ‘film”. Saya sering nonton film Barbie dong?

Eits, namanya sayang anak. Anak minta nonton barbie, ya ditemenin dong. Fokus kembali ke ripiu…

Barbie Video Games Hero ini dimulai setting yang sangat kekinian. Barbie melakukan video chat dengan teman perempuannya, untuk main online games. Adik perempuannya datang membawa ipad. Barbie tak lagi digambarkan pintar masak dan hobi belanja. Dia sekarang jago coding. Iya, coding system computer. Bukan koding manual ngitung hasil survey seperti yang biasa saya lakukan waktu kuliah. Iya, si Barbie jago computer sekarang. Dia nge-crack game online. Lalu, video game-nya terserang virus, dan voila, dia masuk ke dunia video game-nya itu. Semua karakter protagonist yang membantu dia perempuan, hanya satu sosok pria, tapi jauh dari kesan maskulin. Bertarunglah mereka melawan sosok virus yang sangat maskulin, berwarna biru. Lalu..

….

“ajik..wake up ajik…”

Saya gelagapan terbangun. Diva sudah nemplok di atas saya sambil tangannya mencoba membuka paksa mata saya. Saya tertidur rupanya.

Echa sedang mematikan laptop. Film sudah usai.

“How was the ending, Echa?”

“As usual Ajik, Barbie won”

“yeah sure, how’s the virus”

“the blue things?”

“yeah..”

“They changed to be a good one. they became yellow”

“oww..”

 

Rekomendasi: ndak cocok bagi anda penggemar film horror.