Hampir Mati

Awalnya saya mengira sepinya kota-kota yang kami kunjungi waktu itu adalah karena semua sedang berlibur musim panas, lalu hari minggu dan tahun baru pula.

Tapi setelah bertemu dan ngobrol dengan beberapa penduduk lokal, mereka pesimis dengan kota mereka sendiri. “This city is dying..” katanya. Penduduk yang semula berjumlah dua ribuan, merosot drastis menjadi kurang dari lima ratus.

Iya, menyelusuri kota yang sepanjang satu jalanan ini, banyak kami temui plang bertuliskan “For Sale” di depan rumah-rumah penduduk. Toko-toko banyak yang tutup dan tak terurus. Malah, satu toko yang hanya menjual pernak-pernik Natal, membuat natal 2016 adalah Natal terakhir mereka dan menghentikan bisnis keluarga yang sudah 60 tahun lebih. Padahal, mereka juga suplier sebuah mall terbesar di perth.”Do you want to buy it, mate?” Canda kakek yang kami ajak ngobrol.

Mbah, kalau saya bisa beli toko itu, ngapain juga saya kerja nggosok WC tiap malam…

Hotel dan bar yang kabarnya bar dan hotel pertama di kota ini pun (yang tercatat sebagai salah satu kota pertama dalam sejarah penempatan warga Inggris di Australia) menutup bisnis mereka tahun lalu. Yang punya baru saja meninggal kena kanker, dan keturunannya ndak ada yang beminat bisnis di kota yang gersang ini.

Iya, ini tampak depan bar yang tutup itu dan dijual kepada mereka yang berminat. Tentu, tak termasuk mahluk manis yang berpose di depannya. Itu mah tak ternilai…

#roadtrip #summertrip

View on Path