Saat belanja di supermarket, Diva selalu berkata, tepatnya berteriak, “i want that, Ajik” sambil menunjuk barang yang dia mau. Tentu harus ada syaratnya: pake gambar “Le I Go”, atau “princess”, atau “minie mouse”, atau warnanya menarik.

Tentu semuanya biasanya saya abaikan.

Saya lalu memilih buah. Kebetulan buah favorit saya, Nectarine, sudah mulai musimnya. Saya biarkan Diva yang memilih. Ramai. “Ajik look at this”, “ajik, so delicious”, dan segala macam celotehan Diva. Rada lebay emang ni anak, padahal cuman milih buah. Banyak yang melihat dan tertawa.

Akhirnya, setelah dia menjatuhkan tiga buah, saya memutuskan untuk menghentikan aksi Diva. Walau dia berkata “i want more..”

Di kasir, antrian panjang. Banget. Saya udah bete. Sampai si manager toko melihat saya dan memberikan tanda agar saya maju ke meja dia, bukan ke kasir.

Belanjaan saya dihitung di meja dia, sampai akhirnya bungkusan Nectarine, dia berkata,”you dont have to pay this. I see your daughter there. She is so cute. Take this as our christmas gift. I hope she likes it”

Saya memberikan senyuman paling manis dalam sejarah saya.

Suwun loh mbak, sing seneng buah iki yo aku. Tapi ya ra popo. Ancen rejeki-ku.

Merry christmas, mbak…

View on Path