Kalah

“Ajik, how i gonna do if i do not win?”
Tiba-tiba saja Echa bertanya saat saya memgantar dia latihan berenang. Iya, dia mau ikut lomba bulan depan.
“How? Well, lets celebrate it..”
“What? What do you mean? How if i win?”
“Lets celebrate it as well…”
“What? I dont understand..”

Bagi saya, kalah dan juga menang, adalah capaian. Capaian dari sebuah usaha. Setidaknya kita sudah berusaha. Saya masih ingat dua tahun lalu saat Echa mewakili kursus bahasa inggrisnya dalam kompetisi spelling tingkat nasional. Kami sekeluarga berangkat ke jakarta. Dan Echa kalah. Lawannya semua memang jagoan. Echa menangis dan saya peluk. Masih saya ingat betul kata-katanya, “Ajik, Echa kalah..”. Saya peluk dia erat dan membiarkan dia menangis tersedu. Cukup lama. Saya biarkan dia menumpahkan semuanya. Setelah reda tangisnya, saya baru berkata, “hei, selamat ya Echa sudah berani bertanding dan masuk final. Ajik bangga kok. Tahun depan pasti lebih baik lagi.”

Lalu kami semua makan ke resto bakmi favoritnya. Saya berjanji kami makan di sana selesai lomba. Bukan janji untuk kemenangan, tapi penghargaan untuk sebuah keberanian berusaha.

“Ajik, why we should celebrate it?”
“We celebrate the effort. Not the result.”

Kekalahan juga hasil. Bukan hanya kemenangan.

Saya jadi ingat, tahun lalu saya mengirim lima abstrak dab hanya satu yang lolos jadi paper jurnal. Kekalahan juga saya rayakan. Setidaknya saya tahu penyebab paper saya tidak diterima. Kalau saya ndak pernah mengirim abstrak, mana saya tahu penyebabnya…

View on Path