Silau.

Beberapa hari belakangan sebetulnya cuaca membaik dan menyenangkan. Matahari bersinar terang.
Kadang, cenderung terik. Tapi suhu pagi tetap di bawah 10 derajad. Agak galau memang. Bikin salah kostum.
Tapi belakangan ini saya juga merasa ada yang aneh dengan para guru-guru yang lewat setiap pagi. Mereka kali ini tak lagi
terlihat antusias membalas sapaan atau senyuman saya. Mereka lurus berlalu dengan mata memicing. Kadang kalaupun membalas, terlihat agak buru-buru dan setengah kaget. Ingin rasanya saya bersenandung lagunya Charlie Puth, “We dont talk anymore…we dont talk anymore, like we used to do..”.

Tapi, pagi ini, rasa itu terjawab. Seorang guru ayu. Tapi sudah agak tua. Matang lah. Tapi ayu. Tua tapiny. tapi tetap ayu [Cuk, terus ae ngene sampe Ahmad Dhani dadi gubernur Bali]. Saya tahu dia karena dulu sering saya berhentikan mobilnya karena ndak pake stiker staff. Mobilnya ganti-ganti pulak. Mewah kabeh. Alasanne ini mobil suami, adiknya, ibunya. Saya curiga dia nyambi makelar mobil. Sebelas dua belas lah dengan dosen di endonesa nyambi makelar tupperware, batik, atau malah makelar proyek. Tapi dia baik. Ayu pula. Tapi tua (hsssss..) Anyway, dia berhenti dan membuka jendela. Dalam bahasa indonesia-nya, “Mas…maseee, sepurane yo, aku rodok susah ndelok awakmu. Soale silau. Matahari-nya nyentrong tekan mburi-mu…”

Oalah. terjawab sudah. Kenapa banyak dari mereka tak menjawab sapaan, senyuman, atau anggukan kepala saya.
Memang, matahari pagi datang dari belakang saya dan menghadap lurus dengan arah kedatangan mereka. istilah kerennya, backlight. Atau kalau di jalan di sini, nyebutnya blackspot. Saya terlihat siluet thok. Baju menyala dalam gelap malah jadi masalah. Iyo, pasti langsung nyantol soal black-ne. Kampret tenan.

Tapi, ini masalah penting. Jangan sampai para guru-guru itu merasa saya tak lagi ramah menyapa mereka dengan senyuman manis saya. Berbahaya. bayangkan kalau mereka jadi kepikiran, “kenapa ya, mas parkir-nya ndak lagi pernah senyum ke saya”. Terus mereka jadi hilang konsentrasi. Lama-lama depresi. Bisa celaka kalau mereka milih bunuh diri. hanya karena mereka tak lagi melihat senyuman saya. Bahaya bukan?

Saya harus mikir cara baru. Untuk membuat eksistensi saya berdiri tiap pagi itu berarti buat hari-hari mereka. lagipula kalau saya memlih diam saja, bisa jadi mereka bakal komplain ke dewan kota Perth. Komplainnya, “kenapa dewan kota membiarkan tiang listrik dipancang di tengah jalan tanpa ada kabel-nya?”

Mungkin saya harus pegang kabel….

#baladatrafficwarden

View on Path