Syahwat kekuasaan bercampur kebencian membuat orang-orang yang katanya pintar dan alim menjadi semakin tak terpikirkan. Dalil dan keimanan ditarik kesana kemari hanya untuk pembenaran. Pilih pemimpin seagama katanya.

Saya tak heran jika orang-orang yang sama suatu saat akan berkata jangan pilih pemimpin beda suku. Atau nantinya berkata jangan pilih pemimpin beda kelamin. Beda aliran. Beda kepercayaan. Beda tinggi badan. Beda lingkar perut.

Atau saat mutasi gen dan alien sudah biasa, jangan pilih pemimpin bukan manusia.

Itulah kenapa saya tak akan pernah bisa dan tak akan pernah bermimpi jadi pemimpin, gubernur atau presiden. Karena mereka akan segera berkumpul, berkasak-kusuk, menarik-narik dalil agama dan keimanan lalu memutuskan, “jangan pilih pemimpin yang manis”

Lha, iki lak aku thok sing kenek….

*ngikik
*mlipir pura-pura nggarap thesis

View on Path