“Ketika seseorang menunjuk orang lain dengan jari telunjuknya,otomatis jari jempol orang tersebut menunjuk pada mukanya sendiri” kata mbak diplomat. Jempolku rodo angel. Malah jadi aneh lek dipekso nunjuk diri sendiri. Kecuali lek maen tembak-tembakan. Tak tembak loo… *salahfokus *baladajempol *nunjukbukannembak View on Path Lanjutkan membaca

September sudah menapak angka 30. Cahaya matahari hanya kurasa dua atau tiga hari. Sisanya hujan, angin, mendung, tak ada pertanda semi. Iya, kabar chapter buku yang akan terbit tahun ini, chapter buku yang akan terbit tahun depan serta satu jurnal lagi yang baru saja diterima memang bikin cerah hati. Tapi, hujan tetap saja menjengkelkan. Lek onok sing nyanyi lagu september ceria nang ngarepku, tak uncalno sempak. *note: durung adus telung dino View on Path Lanjutkan membaca

Alamak…cinta ditolak. Sungguh sesak sejenak dalam benak. Kata orang bijak, jika cinta ditolak, harus ada yang bergerak. Bertindak. Karena cinta, tak jatuh dari langit begitu saja. *drama *saat foto bergaya depan bunga terasa biasa saja, maka dibuatlah drama. Photo credit: Echa. (Yang selalu bertanya, “can we go home now?” Dan saat disuruh foto malah nego “i will take the picture if you buy me the *** on the way home” – at Araluen Botanic Garden View on Path Lanjutkan membaca

Ingatlah selalu, bahwa wisuda hanyalah satu fase saat pertanyaan “kapan ujian skripsi” tak lagi ditanyakan. Jangan bangga dulu, karena pertanyaan “kapan kawin”, “kapan punya pacar” atau “kapan kerja” akan tetap setia menanti. Wisuda hanya satu fase sederhana darri kehidupan yang sangat kompleks. (Cuk…lambeku kedukuren) Jadi, selamat wisuda kawan mahasiswa, karena wisuda hanyalah mengurangi satu tanya dan satu beban di kepala. Selamat menempuh kehidupan sesungguhnya… View on Path Lanjutkan membaca

Silau. Beberapa hari belakangan sebetulnya cuaca membaik dan menyenangkan. Matahari bersinar terang. Kadang, cenderung terik. Tapi suhu pagi tetap di bawah 10 derajad. Agak galau memang. Bikin salah kostum. Tapi belakangan ini saya juga merasa ada yang aneh dengan para guru-guru yang lewat setiap pagi. Mereka kali ini tak lagi terlihat antusias membalas sapaan atau senyuman saya. Mereka lurus berlalu dengan mata memicing. Kadang kalaupun membalas, terlihat agak buru-buru dan setengah kaget. Ingin rasanya saya bersenandung lagunya Charlie Puth, “We dont talk anymore…we dont talk anymore, like we used to do..”. Tapi, pagi ini, rasa itu terjawab. Seorang guru ayu. … Lanjutkan membaca