Tinggi. Hitam.

Rabu malam ini, karena boss saya memilih istirahat, saya diminta kerja di warung pizza-nya.

Biasanya kalau hari kerja, agak sepi, dan pemesan pun biasanya mereka yang sengaja berlangganan pada hari itu.

Pada jam yang sudah dipilih, sayapun mengantar pizza ke pelanggan ini. Dari namanya, berbau Indonesia. Ada kata Johan. Bisa jadi juga saya salah.

Sampai di alamat, saya mengetuk pintu. Pintu terbuka, nampak sosok anak kecil, laki-laki, sepertinya masih SD. Secara fisik, saya menebak dia berdarah Indonesia. Tapi, saya tak mau salah.

“Good evening, ***** pizza.”
“Yes we order the pizza”, anak itu menjawab dengan inggris-australianya. Dia menyambung lagi, “wait, i call my mom”
“Okay” saya menunggu. Anak itu berteriak, “Mamaaa, tukang pizza-nya datang”

Lhah, pake bahasa Indonesia juga.
“Maaamaaa..”

Lalu saya mendengar suara perempuan.

“Iyaaa bentar. Yang cewek ya?”
Saya menduga yang dimaksud pasti kawan saya, pizza driver yang cewek itu, yang pemain footy itu. Yang ke berlibur ke Bali dan takjub dengan gaji hanya 4 juta sebulan itu.

Si anak kecil itu lalu menjawab sambil masuk ke dalam,

“Bukaaan Ma, ini cowok. Tinggi hitam..”

Jiaaaaaancuk…muayaaaak arek cilik iki. Tinggi hitam, mbok pikir aku tiang listrik tha?

Setelah itu si ibu datang, minta maaf “i am sorry, thank you for waiting. How much for the pizza?”
“56 dollars maam”

Transaksi pun berlangsung. Si anak ndak muncul lagi.

Awas yo..pizza mu tak kasih sandal jepit!

*baladapizzadriver

View on Path