Tag

, ,

Mendapat barang bekas di sini relatif mudah dan menyenangkan. Ada musimnya orang membuang barangnya yang rusak atau yang memang sudah bosan.

Tadi malam, waktu mengantar pizza ke daerah Parkwood, lagi jadwal buang barang di daerah itu. Langsung dong saya jelalatan. Liat barang yang bisa diambil. Saya punya tiga sepeda dewasa dan dua anak-anak. Yang sepeda dewasa dapet dari teman satu dan dua dari mungut di jalan. Udah dipake? Ya ndaklah. Pertanyaan macam apa itu? Bersepeda itu sebuah harapan. Untuk dilaksanakan di masa depan. Entah kapan.

Nah, saya rencananya mau ganti sepeda Diva. Di rumah, sepeda Diva sudah karatan. Lha jelas aja, Ndak pernah dipake. Jadi saya jelalatan cari sepeda balita.

Lha ndalah kok pas ibu yang pesan pizza juga buang barang. Dan itu sepeda! Masih bagus. Pengalaman saya ambil barang bekas bisa saya andalkan dalam menilai kondisi barang yang dibuang. Tapi, justru karena bagus itu saya memastikan lagi ke ibunya.

“May i have that bike?”
“Sure, take it. I need more space at home”

Dia lalu masuk. Saya berpikir keras di depan mobil, bagaimana caranya menempatkan sepeda ini di mobil perang saya ini. Bagasi sudah penuh drngan peralatan klining. Kursi tengah penuh dengan box pizza. Depan? No. Kena polisi bisa kena denda. Ndak sumbut drngan sepeda gratisannya.

Saat mikir itu, saya mendengar teriakan kencang:
“Mommy, a man stole my bike..”
Suara anak kecil. Teriak. Dan nangis. Kencang.

Jiangkrik…saya terdiam. Saya putar badan sambil mengangkat sepeda itu. Saya lihat anak kecil cewek nangis sesenggukan sambil menunjuk saya.

Si ibu keluar dari pintu. Melihat saya salah tingkah, lalu menenangkan anaknya.
“No honey, he did not steal your bike. I gave it to him..”
“No, he stole it. I want my bike back..”

Tetap nangis. Kencang. Pake banget!!

Si ibu memandang saya. Penuh harap. Saya paham.
“Here is your bike, i did not steal it. You can have it”

Si anak menerima itu. Tangisnya hilang. Sambil lirih berkata “thank you”

Si ibu merasa ndak enak. “You can take it later tonite. I am sorry..”

“No..its alright..its ok”

Saya balik badan. Naik mobil.
Jangkrik. Lek nang Endonesa aku wes babak belur digebuk wong sekampung. Atau di-obong….

View on Path