Cita-Cita

Bukan, ini bukan soal penyanyi dangdut itu. Ini soal cita-cita Echa. Cita-cita Echa jauh lebih variatif daripada cita-cita saya dulu. Dulu, cita-cita saya sebatas: dokter, polisi, pilot. Echa lebih variatif. Saat ngobrol bersama Ibunya, Echa bicara soal cita-citanya. Tentu dalam bahasa Inggris. Ya, dia sekarang jadi polisi grammar untuk kami. Kadang seneng, kadang nyebelin. Coba, saat ngomelin dia yang ndak pernah merapikan kamarnya, eh yang dia lakukan malah membetulkan grammar saya atau ibunya. Kan marahnya jadi ndak asyik. “Ajik, bed, not bet..”

Oh, soal cita-cita…

“Ibu, aku tahu mau jadi apa nanti..”
“Ohya? Jadi apa coba?”
“Aku mau jadi pemain biola profesional, perenang olimpiade dan guru”

Iya, sangat kontekstual cita-citanya Echa. Pemain biola karena dia baru saja dapet report guru musiknya yang memuji-muji lantunan biola-nya selama kelas biola. Perenang olimpiade karena Echa rutin les berenang dan sudah mencapai level yang cukup tinggi (tentu jauh lebih tinggi dibanding bapak ibunya yang ndak bisa berenang), dan pas momen olimpiade, saat perenang australia mempersembahkan emas pertama negara ini. Lalu, guru, tampaknya karena dia menyukai sistem sekolah di sini (bisa jadi juga karena ibunya dulu guru TK).

“Tiga-tiganya Echa?”
“Iya, aku membayangkan bisa pentas bermain biola, dapet emas saat olimpiade. Jadi terkenal. Tapi…”
“Tapi kenapa, Echa?”
“Kalau terkenal nanti, pas mengajar di sekolah, semua orang nanti minta foto sama aku, minta tanda tanganku. Kan jadi ndak enak sama guru yang lain.. Gimana dong Ibu? Aku bingung”

Nah, kalau itu kayaknya saya tahu bakat pede-nya dari mana…

#storyofecha

View on Path