Komunikasi

Sejak awal, ada satu bapak yang setia menyapa setiap pagi. Kendaraannya besar dengan bak terbuka. Biasanya ada anjing besar nangkring sambil lidahnya klewer-klewer. Lidah anjingnya, bukan bapaknya. Nah, aksen ostrali bapak ini kental sekali. Bahkan untuk kalimat pendek sekalipun, sering saya berusaha keras memahami. Tapi, dia baik dan ramah. Selalu mengakhiri oercakapan singkat dengan mengacungkan tangan mengajak toss.

Kemarin, dingin, berangin dan ramai. Di kiri mobil guru berdatangan, di kanan mobil orangtua berlewatan. Tanpa henti. Saya sungguh merasa seperti kucing emas keberuntungan yang manggut-manggut di pojokan toko. Sampai akhirnya bapak itu lewat. Suara mobil besarnya keras, ramai dan saya konsentrasi di dua sisi.

“Hai mate…blukutukblukutukblukutuk”

Saya tak dengar apa yang dia bilang. Tapi, hei, layanan prima, dia sudah sapa, saya harusnya balas dong.

“I am good mate, bit busy now..”
“Blukutuk blukutuk blukutuk..”
“Yeah, have a good day too, mate..”

Dia pergi. Saya sungguh tak tahu apa yang dia bilang. Ini komunikasi dua arah, tapi tak timbal balik kayaknya.

Pagi ini, dia datang kembali. Kali ini berhenti di depan saya, membuka jendela dan berkata, “mate, i am really sorry. I did not hear anything yesterday morning”

Saya ketawa. Ternyata, kami berdua sama-sama tak paham. Ngobrol sebentar, lalu dia pergi sambil menunjuk termos saya. “We should have a cuppa sometimes, mate..”

Jadi, saya membayangkan percakapn kemarin seperti ini:

“Blukutuk blukutuk blukutuk?”
“Bluktutuk blukutuk”
“Blukutuk blukutuk blukutuk blukutuk..”
“Blukutuk blukutuk blukutuk..”

Tapi, itulah indahnya niat baik dalam berkomunikasi…. Blukutuk bukan?

View on Path