Lottery

“Have you won any lotteries, mate?”
Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul. Ditujukan kepada saya. Saya gelagapan. Saya sedang menunggu cucian di tempat cucian umum ini. Yang bertanya seorang bapak-bapak yang juga menunggu cuciannya. Sebetulnya saya agak kesal, karena bapak ini memakai srmua mesin cuci yang ada sehingga saya musti menunggu satu mesin yang dia pakai.

Saya menjawab, “yeah, sort of. My biggest winning was 24 dollar”

“Yeah, me too. What will you do if you win 1 millions?” Tanyanya lagi.
Saya menggeleng. Saya tak berminat berkhayal saat ini. Saya mikir cucian saya belum tuntas sementara nanti saya harus mengantar Echa latihan pramuka.

“I dont know, probably take some long holiday? What will you do?” Saya balik bertanya.

“If i get 1 millions? I will buy a small house in Bali and spend my whole life there”

Jawaban itu cukup mengagetkan saya. Saya jadi tertarik.

“Why?”
“Do you know Bali, right?”

Saya mengangguk. Tapi saya tak mau merusak cerita yang akan dia sampaikan. Lalu dia bercerita banyak hal. Betapa dia menyukai Bali. Budayanya. Orang-orangnya. Bahkan dia cukup tahu soal reklamasi dan isu-isu nasional.

“But i have not been there yet. I dont have money. I cant afford it. I need to take care my mother. She is very sick now”

Lalu dia curhat soal ibunya. Sampai akhirnya dia berkata, “but dont get me wrong. I love your country too”

“What do you mean?”
“Yeah, i have friend from Bangladesh too. A good friend. Like you. You are from Bangladesh, right?”

Saya nyengir. Mood dengerin ceritanya langsung ambyar.

View on Path