Pagi ini gelap, hujan dan dingin. Sungguh kombinasi yang tak mengenakkan hati untuk berdiri pagi-pagi. Kostum dan peralatan perangpun makin berat. Baju tebal lapis tiga, plus jaket glow in the dark kebanggaan dunia plus pedang saber berwarna merah yang bisa menyala. Perlengkapan standar tukang parkir. Dar kejauhan, saya mungkin seperti Dart Vader. Bukan Hans Solo. Soale ireng. Lek onok arek cilik rodo kemlinthi lan wedhian, dari jauh pasti dia udah tereak-tereak ke ibunya, “Maaamaaa, kok ada baju warna kuning gerak-gerak sendiri sambil bawa pedang..”

Tapi, semesta sedang mendukung. Walau hujan lebat dari pagi, para orangtua dan guru yang lewat atau memasuki areal kerja saya semuanya baik hati dan ramah. Mungkin bersimpati lihat orang tinggi besar manis, pake payung, jaket glow in the dark, bawa pedang berdiri mematung pagi-pagi sambil kedinginan. Hampir semuanya memelankan mobilnya, memberi kesempatan saya melihat stiker permit atau kertas ijin parkir sementara yang menempel di kaca depan atau dasboard. Hujan deras plus lampu mobil memang membuat semuanya serba samar. Akeh wong samar.

Para orangtua bahkan menyempatkan membuka kaca jendela, menyapa selamat pagi, atau melambaikan tangan, dan malah banyak yang menyampaikan simpatiberupa ucapan “goodluck with the weather” atau “take care, mate”. Sungguh. terharu. Saya yakin mereka tulus. Setidaknya, saya tak mendengar mereka tertawa ngikik saat mengucapkan sapaan itu.

Bahkan, para orangtua yang biasanya mokong, yang biasanya ngotot ingin masuk areal khusus staf, kali ini saya lihat menurunkan anak mereka di areal semestinya. Ndungaren…. Coba ndak hujan juga mereka begitu.

namun, saya terbiasa skeptis. Awalnya saya curiga mereka “baik” karena ada yang salah. reflek dong, liat resleting. Aman. baju juga ndak ada yang kebalik. Sepatu juga bener. Jadi, asli, mereka tulus. Setidaknya, keramahan dan simpati itu mengurangi siksaan saya menahan pipis akibat hujan dan dingin itu. Sebenarnya bisa aja sih dilos…ben iso rodok semriwing anget-anget. Kan gak ketoro, lha wong udah deres.

lalu, tibalah saat hujan reda. Pelangi menjelang. Sempurna. membayangkan menikmati pelangi ini sembari ngopi Tjap Doea Doeda produksi kawan saya Aret, dan sepiring pisang goreng. Mantap.

Benar-benar semesta mendukung.
Lalu, ke kampus, dapet email. Saya diminta merevisi artikel jurnal lagi.

gak sido seneng…

*disclaimer: ada product placement dalam artikel ini 😀 Gratis kok. – with aret

View on Path