Pup

Satu hal yang sangat kami pahami dari Diva adalah dia tidak mau orang lain tahu kalau dia sedang pup.

Iya, dia pake pampers. Tapi kami hafal betul kapan dia pup. Dia menunjukkan dengan cara-cara yang sangat lugas.

Satu, bersembunyi. Dia akan tiba-tiba saja mencari tempat “persembunyian” untuk menuntaskan tugas mulia itu. Tempat favoritnya di rumah adalah di bawah meja makan, yang kebetulan tertutupi taplak meja yang cukup lebar. Kalau di tempat dia berenang, biasanya masuk di dalam papan iklan yang ditaruh di lantai. Di cafe tempat biasanya menunggu kalau Echa ada acara ulangthun temannya, dia akan lari ke pojok yang, celakanya, berdekatan drngan meja tempat para nenek-nenek gaul se-wiletton kumpul dan arisan. Di tempat tersenbunyi itulah biasanya dia nungging, jongkok atau merangkak. Konsentrasi penuh.

Kedua, untuk memastikan, biasanya kami tanya, “Diva, are you poopping?”. Kalau dia pup beneran, dia akan menyangkal dengan keras. Dan marah. “Noooo, i am not” atau “No waaay…”. Semakin menyangkal, semakin benar kalau dia pup.

Ketiga, bau akan menyusul kemudian. Luar biasa. Sering cuman seuprit, tapi bau-nya seperti segerobak.

Keempat, kalau sudah selesai, dia akan keluar dari gua pertapaannya itu dan berkata,”finish…”. Kadang kalau banyak, dia jalan sambil ngangkang.

Tentu inj tidak berlaku kalau di cafe. Begitu kami lihat dia mengambil posisi sembunyi, langsung harus ada yang mengamankan segera.

Kali ini, istri saya mengirimkan video. Diva menemukan tempat baru. Di dalam lemari baju kakaknya.

Alhasil, setelah ritualnya Diva selesai, Echa ngomel-ngomel “its smelly..yuckiee”

View on Path