Otak Buntu

Otak buntu itu berbahaya. Deadline naskah jurnal saya dua hari lagi, tapi otak saya buntu. Otak sudah pas-pasan ditambah buntu. Bayangin dah.

Kondisi lebih parah saat perut lapar. Biasanya Curtin, kampus saya inj, jagonya kalau soal foodtruck. Hampit seluruh jenis mkanan ada. Kecuali babi guling. (Peluang bisnis nih). Tapi, sekarang sedang libur semester, foodtruck juga terbatas. Lha wong kampus sepi.

Otak buntu, perut lapar plus hari ini dingin sekali. Matahari bersinar cerah. Tapi kalau ada yang foto-foto pake celana pendek sama singlet doang itu artinya lagi mabok.

Akhirnya saya iseng ambil foto gedung library ini. Bukan karena saya rajin baca. Tapi ya suka aja liat kombinas objeknya. Lalu..

“Excuse me, where is building 105?”

Saya menoleh. Oh, agaknya ini bukan orang Curtin. Pake name tag. Mungkin peserta conference.
Saya jawab, “oh, i am not sure either. I will check the map”

Saya lalu liat app di iphone saya. App yang ada map-nya curtin.

“It should be around here. Probably you can check that side”.

Saya menunjuk ke arah sebelah gedung perpustakaan.

“Thank you….i will check it”
“You are welcome, enjoy the day”

Dia pergi. Saya kembali mencari makan siang saya.

Lalu, saya hendak posting foto saya di instagram. Biar kekinian. Dan saya lihat nomer 105 segede gaban di foto saya itu………..

Sungguh, otak buntu, perut lapar, udara dingin…..

*baladamahasiswamanis – at TL Robertson Library

View on Path