Pipis Profiler

Tantangan terbesar dari pekerjaan tukang parkir ini adalah, selain bangun pagi, menahan pipis. Ini sekolah perempuan, toilet lebih banyak untuk cewek. Utk staf tetap adanya di dalam. Ribet. Jauh juga dari tempat saya berdiri tiap pagi. Jadi ritual saya biasanya sebelum berangkat adalah pipis.

Pagi ini saya melewatkan ritual itu.

10 menit pertama, rasa ingin pipis itu muncul. Suhu 8 derajad, gerimis dan berkabut tebal. Bikin saya jadi wong samar. Untung pake jaket glow in the dark. Saya jadi glowing.

Hasrat ingin pipis itu kian menjadi. Meninggi. Saya gelisah tak karuan. Jalan di tempat. Sampai ibu itu datang.

Dia termasuk kategori orangtua ramah, baik hati dan menyenangkan. Dia selalu membalas sapaan saya, bahkan membuka jendela utk berkata selamat pagi, atau terima kasih atau sekedar see you tomorrow morning. Saya jadi hafal apalagi karena dia selalu memakai baju yang sewarna dengan mobilnya. Satunya BMW merah dan satunya entah apa merknya, berwarna biru. Pakaiannya pasti senada. Mungkin dia sales mobil. Atau sales baju. Atau sales cat mobil. Emboh. Kadang dia dari jauh dia sudah dadah-dadah sambil senyum drngan bibir bergerak seolah memgucap “good morning”. Saya kan orangnya kul. Jadi tak balas senyuman aja. Sambil manggut. Atau berkata “thank you”. Tapi sesekali perlu kayaknya membalas dadah-dadah sambil jingkrak2.

Dia berhenti dan membuka jendela,”i know that look”
“Pardon me?”
“I know that you really want to go to the toilet..”
Jangkrik. Hebat ibu ini. Kalah Dr Reid di Criminal Mind. Iso moco profile wong kepengin pipis.

“How do you know?”
“My son always shows that face when he wants to go to toilet while i am busy shopping”

Saya cuman bisa nyengir.
“Good luck, still 1 hour to go”

Saya ketawa. Apalagi saat dia bilang “next time, buy a nappy”

Aku ngguyu. Terus meneng. Mandek. Koyoke onok sing ngeciprit. Setetes dua tetes. Sithik kok.

Sesuk nggawe nappy….

View on Path