Tag

, , , ,

Saya lupa kalau ada sambungannya. Berminggu-minggu nongkrong di folder draft. Seperti nasib thesis saya. Judulnya draft melulu. Nah, kalau sebelumnya pertanyaan-pertanyaan tak terduga muncul dari mahasiswa saya soal kuliah dan sekitarnya, kini soal yang lebih luas. Soal cita-cita, cinta dan beasiswa. Iya, dosen juga sering ditanya soal itu. Jadi tempat curhat juga. Menyenangkan sih, punya banyak cerita dan referensi. Ndka hanya little John melulu. Mungkin suatu saat nanti, dosen juga akan ditanya nomer togel. Siapa tahu ada dosen nyambi bandar togel. Kalau bandar proyek mah banyak.

Suatu waktu, saat kisruh pengumpulan skripsi, seorang mahasiswa sempat bertanya hal yang tak saya sangka. “Mas, setelah lulus, saya mau jadi apa?”

Semula mau tak jawab ngawur. Tapi anak ini mukanya serius. Lebih srius lagi, dia baru saja ngumpulin skripsi. Minggu depannya ujian.

Lalu saya jawab serius,”minimal kamu jadi sarjana ilmu komunikasi..

Eh saya disiwak. Padahal jawaban saya serius.

Ada lagi yang curhat panjang soal bagaima kuliah di komunikasi bukan cita-citanya. Tapi karena pilihan orangtua-nya. Bagaimana soal cita-citanya kulish di jurusan music ditentang orangtua-nya, bahkan formulirnya dirobek. Menyakitkan memang. Tapi saat curhat itu disampaikan pada saat dia sebentar lagi ujian skripsi dan lulus, tampaknya membuat curhat itu bagi saya tak relevan lagi.

Pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan paling seirng adalah, “Mas, sampai saat ini, saya ndak tahu mau jadi apa setelah lulus nanti”

Karena saya takut disiwak lagi, saya cuman bisa diam saja. Tapi dalam hati saya menjawab, “Kalau saya tahu kamu mau jadi apa, saya ndak perlu jadi dosen. Saya jadi dukun saja..”

Cita-cita itu memang jadi masalah besar. Lebih kompleks dari hanya mengisi kolom di buku kenangan standar lulusan SD atau SMP yang menanyakan cita-cita. Sejak SD dulu, cita-cita saya selalu berkisar antara dokter dan insinyur. Sempat berubah jadi pilot saat sering bertamasya ke bandara saat kecil dulu (Iyah, itu tempat liburan saya paling happening).

Lain lagi kalau soal cinta. Tak banyak mahasiswa yang mau bertanya soal masalah cinta kepada saya. Sebagian besar sudah kapok saya bully jomblo. Ada memang satu dua, tapi itupun tampaknya sedang mabok sehingga ndak sadar kalau nanya saya. Ada satu cowok jomblo komunikasi yang sempat menyukai adik kelasnya, (tidak, saya tak akan menyebut namanya..) dan secara tak sadar bertaya kepada saya, “Gimana ya mas caranya membuat si *tiiiit* itu seneng karo aku? Sampeyan duwe carane tha mas?”. Pertanyaan itu sempat membuat saya sesaat mengira saya tuh dukun. Punya ilmu pelet. Setelah kesadaran saya pulih, iseng saya bertanya, “Loh, wes tau mbok ajak ngomong ora?”.

Dia jawab. Lirih. “Durung mas, ra tahu tepak waktune…”

Ya, terus aja berharap si cewek seneng sampe dia kawin dan punya cucu.. (dan iya, kabarnya si cowok ini sampe kini masih menjomblo. Mungkin masih berharap cinta sang adik kelas. Yang tak pernah disapa)

Yang lebih dalem, kadang ada yang curhat soal pasangannya.

“Aku udah ndak seneng Mas. Tiap hari gegeran ae. Dijak ngomong gak gelem.”

“Yo wes, gampang toh. Putus aja”

“Wah, susah mas. Aku sek cinta karo de’e”

“lah…”

Pengin tak belikan celengan babi ae, terus tak suruh curhat sama celengan babi.

 

Nah, soal yang lebih akademis, soal beasiswa. Saya sebenarnya tak sepintar kolega-kolega saya yang lain. Saya ini pas-pasan orangnya. Otak ya ngepas, IP yo nge-pas, rai yo nge-pas. Pas manis. Jadi, kalau soal akademis itu kadang saya sungkan. Mbok ya tanya teman saya yang kalau mimpi mungkin pake Bahasa inggris. Atau pake teori-teori. Saya kebetulan orangnya beruntung dan nrimo. Jadi pas dikasih beasiswa yo nrimo ae. Ra wani nolak. Lalu, kok ya pas, saya dulu jadi buruh yang kerjaanya memaksa mahasiswa progresif cari beasiswa. Persoalannya, ini jaman internet. Ada mbah gugel yang bisa ditanya apa saja. Apalagi kalau soal beasiswa. Lha, saya yang pas-pasan begini aja, nyari semua info dulu di internet. Ini, kantor saya sudah menyediakan semua di website, eh masih saja harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

“Mas, kalau mau apply beasiswa caranya gimana ya?’

Ini mirip lah dengan pertanyaan, “mas, kalau mau kawin, gimana ya caranya?’

Tapi ya, namanya layanan public, pertanyaan macam apapun harus dijawab. Barangkali, itu pertanyaan yang cuman ngetes. Seperti pertanyaan satu ini:

“Mas, itu beasiswanya syaratnya TOEFL musti 550, lha TOEFL saya 450. Gimana dong mas?

Pengin tak sodori buse’an pensil. “Ngene lo le, endi sertifikat TOEFL-mu, hapus angka 4, terus tulis jadi 5…”

Tapi itu masih mending, masih punya sertifikat TOEFL. Ada lagi kayak begini,

“Mas, saya pengin apply beasiswa itu, tapi musti punya sertifikat bahsa inggris, TOEFL atau IELTS, saya belum punya dua-duanya. Gimana mas?”

Lah, masak diganti pake kartu keterangan imunisasi? Ternyata lebih parah lagi, “tapi saya sudah punya paspor, mas. Bisa ya mas?’

Kadang, ada juga mahasiswa galau.

“mas, aku ndak kepengin di Australia. penginku di Eropa, enak iso mlaku-mlaku”

“Yo wes, apply kono nang Eropa”

“tapi susah mas. Syarat IELTS-nya tinggi. Cuman bisa di Australia”

“Lha, ya udah, apply di Australia”

“Tapi aku ndak seneng mas, ndak bisa jalan-jalan”

Ini kalau dilanjutkan percakapannya, mungkin baru selesai nanti kalau Ahmad Dhani jadi presiden Indonesia.

yang over pessimistic juga banyak.

“Duh berat ya. Nanti tes-nya susah ya Mas? Aduh ndak wes, ndak jadi apply”

Itu baru pada saat baca pengumuman di fesbuk. belum ngapa-ngapain.

Tapi, yang over optimistic juga lebih banyak.

Mas, nanti aku jalan-jalan ke tempat sampeyan ya. Bisa kan? Nanti aku dianterin jalan-jalan ya,”

“Oh gampanglah itu. Kamu udah apply?”

“Belum mas. Masih belum punya sertifikat TOEFL, baru tes minggu depan.”

“Loh, itu deadline apply-nya kapan?”

“Besok sih. udah telat ya?”

“Ya gimana ya, kayaknya udah telat. Itu beasiswa apa sih?’

“Ke Belanda mas, punya NEC..”

“Lha…aku kan di Australia…”

 

Tapi ndak apa-apalah. Yang penting niat-nya sudah ada. Minimal nanya dulu. Karena ada juga mahasiswa saya yang sangat bertekad bulat dan berniat kuat, dan bisa loh mewujudkan semua itu. Dia pernah menyampaikan keinginannya untuk ikut sebuah program inernasional, yang biayanya tidak ditanggung pelenggara. Kebetulan itu di eropa. Saya sempat pesimis, walau tetap membantu sebisanya apapun yang dia minta. Saya sempat melontarkan pernyataan yang pesimistis, bahwa kecil kemungkinan dia bisa berangkat. Tapi, tak lama kemudian, dia sudah di Eropa. Luar biasaaa.

Jadi, iya, walau kadang sakit kepala berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan itu, kadang ikutan senang juga saat si mahasiswa mencapai apa yang diinginkannya. So, selamat berjuang kawan..

 

Perth, 25 Mei 2016