Pagi yang Merindu

Di saat pagi dengan suhu seperti ini, saya merindu saat-saat duduk menyeruput secangkit kopi Bali atau kopi Aret Tjap Doea Doeda sambil menikmati melodi pagi dari tukang sayur, jagung rebus atau mereka yang bersenandung “pilih yang asyik..chik yen chik yen, bakpao yang asyik..” (Kayaknya begitu syairnya. Saya lupa). Atau satu penjual yang masih misterius hingga kini. Biasanya naik motor sambil ngebut dari ujung perumahan sambil belok sudah berteriak, “babiiiii…”. Atau “kopiiii…”, entahlah. Hingga kini saya tak pernah tahu apa yang dijualnya. Selalu ngebut, drngan nada suara yang lebih mirip memaki…”babiiiii…”. Buset dah…. Semua akan saya nikmati hingga saatnya naik motor ke surabaya menempuh 30 km untuk masuk ke kelas jam 7 yang sudah saya undur jadi 7.30 dan tetap yang setia menunggu hanya bangku.

Tapi, pagi ini saya di sini. Menggigil di pinggir jalan sejak pagi. Bertemu mamah muda tanpa alis mata, embah tangtungtangjes, atau nenek-nenek pembawa asu lucu sekali. Jika ada yang melihat saya sedang berdiri, mengangkat tangan menghadap matahari…bukan, saya tak hendak memuja matahari, saya hanya bermaksud memanaskan jemari.

Ah, pagi memang ada yang merindu, ada yang bikin ngelu… – with aret

View on Path